Tetes hujan merintih ditengah kangen ku, jika usai hujan di senja ini,

ku berharap pelangi dihadirkan oleh Tuhanku, untuk mengobati rindu yang semakin meronta diujung kalbu.

Thursday, December 12, 2024

Budiman: Teratai di Tengah Badai

Budiman: Teratai di Tengah Badai
Di desa kecil Rimba Sari, angin malam berhembus lembut, membawa aroma dedaunan basah dan tanah subur. Desa ini adalah tempat Budiman tumbuh, dikelilingi hutan lebat yang menyimpan cerita-cerita leluhur. Hidup di sini adalah perjuangan abadi, bukan hanya melawan alam tetapi juga melawan manusia yang tamak. Namun, di balik setiap kesulitan, ada pelajaran yang selalu ia genggam erat—pelajaran yang diwariskan oleh ayahnya, Datuk Kahar, seorang guru silat yang dihormati.

“Budiman,” gumam Datuk Kahar suatu malam, suara tenangnya menembus udara dingin. “Kekuatan sejati terletak dalam kesabaran, bukan dalam kecepatan. Dalam pengendalian diri, bukan dalam amarah.” Kata-kata itu diucapkan di bawah sinar rembulan, saat mereka berlatih silat di halaman rumah. Cahaya bulan memantul di mata ayahnya, seolah menegaskan kebijaksanaan yang ia bawa.

Budiman mencoba memahami makna di balik kata-kata itu. Ia teringat saat pertama kali berhasil mematahkan batang pisang dengan pukulannya. Ada rasa bangga yang menyeruak dalam dirinya, namun kebanggaan itu sirna ketika ia melihat wajah ayahnya. “Kekuatan bisa menjadi bencana jika tidak dikontrol,” ujar Datuk Kahar dengan suara penuh peringatan.

Sejak kecil, Budiman hidup dalam keseimbangan yang rapuh antara keberanian dan kebijaksanaan. Setiap pagi, sebelum matahari terbit, ia berlatih silat di bawah bimbingan ayahnya. Gerakannya lincah, tubuhnya lentur, tetapi Datuk Kahar menekankan bahwa silat bukan hanya tentang kekuatan fisik. “Ini adalah warisan leluhur, Budiman. Setiap gerakan memiliki makna. Ini tentang menjaga, bukan menguasai,” katanya.


---

Ujian Pertama

Ketika usia Budiman menginjak 16 tahun, ujian datang tanpa peringatan. Suatu malam, desa mereka diserang oleh sekelompok perampok bersenjata. Api membakar rumah-rumah, teriakan bergema di udara, dan hutan yang biasanya damai berubah menjadi medan perang.

Budiman, yang selama ini merasa cukup kuat dengan ilmu silatnya, terjun ke tengah kekacauan. Dengan gerakan cepat, ia melumpuhkan beberapa penyerang. Namun, kemenangan kecil itu tak mampu menyelamatkan ibunya, yang tewas di tengah kekacauan. Saat Budiman terjatuh di samping tubuh ibunya, ia menyadari bahwa kekuatannya tak cukup untuk melindungi orang yang ia cintai.

Setelah malam itu, Budiman berubah. Ia menjadi pendiam, melatih dirinya lebih keras setiap hari. Namun, ada sesuatu yang berbeda dalam hatinya. Amarah mulai menguasai dirinya, sebuah bara yang ia nyalakan untuk menutupi rasa bersalah dan kehilangan.


---

Pencarian Makna

Tak lama setelah tragedi itu, Budiman meninggalkan Rimba Sari. Ia merasa perlu mencari jawaban atas kegelisahan hatinya. Ia berkelana ke berbagai penjuru tanah Melayu, belajar dari guru-guru silat yang terkenal. Dari Bukit Bintang, ia mempelajari jurus harimau yang mengajarkannya kekuatan. Di Lembah Panjang, ia menguasai jurus elang yang melatih ketepatan. Dan di Gunung Bujang Tan Domang, ia mempelajari jurus naga, yang melambangkan harmoni antara tubuh dan jiwa.

Namun, di balik semua ilmu yang ia pelajari, amarah masih bersemayam dalam dirinya. Ketika ia mendengar tentang seorang penjelajah asing yang menggunakan ilmu hitam untuk merusak hutan Rimba Sari, amarah itu membara. Budiman memutuskan untuk kembali ke desanya, kali ini dengan tekad membalas dendam.


---

Pertarungan Terakhir

Penjelajah itu, seorang pria bertubuh besar bernama Marcellus, membawa pasukan dan sihir gelap untuk mengambil kekayaan alam Rimba Sari. Di malam yang sunyi, Budiman berdiri di depan markas musuh, menantang mereka dengan suara lantang.

“Marcellus!” teriaknya. “Kau telah mencemari tanah leluhur kami. Aku, Budiman, akan mengakhiri perbuatanmu!”

Pertarungan sengit pun terjadi. Budiman menggunakan seluruh ilmu yang ia pelajari, menghancurkan pasukan Marcellus satu per satu. Namun, ketika ia menghadapi Marcellus, sesuatu yang aneh terjadi. Penjelajah itu menggunakan sihir untuk menciptakan bayangan gelap yang menyerang Budiman dari segala arah.

Budiman terhuyung, hampir jatuh. Di tengah kepanikan itu, ia teringat kata-kata ayahnya. Kekuatan sejati terletak dalam kesabaran, bukan dalam amarah. Dengan napas yang tertahan, ia memusatkan pikirannya, mencoba mengendalikan emosinya. Ia bergerak dengan tenang, menyerang dengan hati-hati, hingga akhirnya berhasil melumpuhkan Marcellus.

Namun, di detik terakhir, ketika ia bisa menghabisi nyawa musuhnya, Budiman berhenti. Ia melihat bayangan dirinya sendiri dalam sosok Marcellus—seseorang yang dikuasai oleh ambisi dan kebencian. Dengan suara tegas, ia berkata, “Kematianmu tidak akan membawa kedamaian. Pergilah, dan jangan pernah kembali.”


---

Teratai di Tengah Badai

Kemenangan itu bukan hanya milik Budiman, tetapi juga seluruh desa Rimba Sari. Penduduk desa kembali merasa aman, dan hutan yang hampir hilang kembali menemukan keseimbangannya. Budiman, yang kini dipandang sebagai pahlawan, menyadari bahwa perjalanan sejatinya bukan tentang mengalahkan musuh, tetapi mengalahkan kegelapan dalam dirinya sendiri.

Ia memilih untuk tinggal di Rimba Sari, mengabdikan hidupnya untuk melindungi desa dan mengajarkan generasi berikutnya tentang arti kekuatan sejati. Budiman adalah teratai di tengah badai—tangguh, indah, dan tak tergoyahkan oleh amarah. Di bawah sinar rembulan, ia berdiri tegak, seorang penjaga tanah leluhur yang memahami bahwa kekuatan sejati selalu berasal dari hati yang bersih.


No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...