Tetes hujan merintih ditengah kangen ku, jika usai hujan di senja ini,
ku berharap pelangi dihadirkan oleh Tuhanku, untuk mengobati rindu yang semakin meronta diujung kalbu.
Showing posts with label penyataan. Show all posts
Showing posts with label penyataan. Show all posts
Friday, November 22, 2013
Sehari Lalu...
Tak ada yang namanya kebetulan di dunia ini. Dalam catatan Tuhan, semua sudah terencana dengan baik, termasuk kelahiran dan kematian seorang manusia. Setiap kelahiran membawa tawa dan setiap kematian membawa tangis.
Dan hari ini, eh kemarin, adalah hari yang pastinya diwarnai oleh tawa bagi yang memperingati hari lahirnya. Tawa yang semoga tak berkesudahan. Karena kita selalu mengharapkan ada tawa di setiap perjalanan lika-liku kehidupan manusia. Camkan, segala hal selalu punya sisi yang bisa ditertawakan, bahkan untuk diri sendiri. Kamu suka menertawakan diri sendiri, bukan?
Waktu itu melesat bagai tembakan peluru. Tak peduli bagaimana kita melihatnya, ia terus meluncur ke arah ia ditujukan. Terus bergerak maju, tak pernah mundur sekalipun. Menyinkronkan diri dengan waktu yang melekat pada kehidupan kita. Hidup itu perjalanan waktu. Perlahan tapi pasti kita akan mencapai ujungnya.
Tawa-tawa dan senyum-senyum mengejek itu, saya selalu mengingatnya. Saya tidak pernah menyangka pertama kalinya berjumpa dengan seorang perempuan kecil yang ceria, cerewet, dan cengengesan. Haha…ya, pertama kalinya ketika saya merasa asing diantara teman-teman disana, ia menjadi korban ledekan saya. Sudah menjadi kebiasaan saya bercanda dengan teman-teman lain untuk memecah suasana, dalam rapat sekalipun. Saya senang meledeknya, karena senang melihatnya selalu pura-pura merengut . Yang tentu saja dibalas dengan ledekan pada saya. Saya terhibur. Saya tertawa.
Nah, itu kamu yang selalu tak terima dikatakan anak kecil. Hahaha…julukan itu hanya kiasan belaka loh. Bukan bermaksud mengerdilkan kehadiranmu, melainkan menyematkan satu keunikan padamu. Mendewasalah. Saya percaya ketika kau melakukannya. Di dunia ini, tak ada orang yang tak mampu bersikap dewasa. Hanya saja, saya juga percaya, tak selalu perjalanan kehidupan kita harus dilalui dengan sikap-sikap dewasa. Ada masalah-masalah yang perlu diselesaikan oleh sifat kekanak-kanakan.
Ah ya, pertama kali melihatnya, matanya sudah menyiratkan sedikit gurat kesedihan yang dipendam. Menunggu, katanya. Terkadang tawa-tawa yang diperlihatkannya nampak dibuat-buat. Ia ingin mengalihkan dunia dari kesendiriannya.
Kepada kamu yang suka menertawakan kecerobohan-kecerobohanmu sendiri, ingatlah hari dimana kau dilahirkan. Ada banyak doa yang menyertaimu. Peluk dan cium seorang ibu menyemat lingkar tubuhmu. Dan ayah, yang semakin memutar otaknya untuk memenuhi kebutuhan hidupmu kelak.
Ya, kepada kamu yang telah merayakan alur kebahagiaannya sehari kemarin. Menyisakan napas-napas bahagia dan sengal semangat untuk menghadapi hari esok. Berdoalah, karena Tuhan Maha Pemurah. Untaian kata oleh orang-orang yang mendoakanmu hari ini, bukan semata basa-basi. Melainkan sebentuk kasih sayang mereka padamu. Kasih sayang itu takkan kunjung habis hanya karena kau memendam segumpal kelam masa silam.
Maaf, saya tak bisa memberikan apa-apa. Saya bukan Doraemon yang punya kantong ajaib untuk memunculkan apa saja. Hanya sebaris doa saja yang bisa saya panjatkan. Doa yang juga biasa-biasa saja, entah akan diijabah Tuhan atau tidak. Saya tidak begitu yakin telah menjalankan segala perintah-Nya dengan benar.
“Tuhan, kabulkanlah doa-doa baik yang terhimpun hari ini untuknya,”
Katamu, masa kelam itu takdir. Tapi bagiku, itu kekonyolan. Menyimpan luka dan membiarkannya bersarang menggerogoti setiap kesepian kita adalah sebenar-benarnya luka. Apa yang terjadi pada kita adalah apa yang selalu kita pikirkan. Kitalah yang menciptakan kesempatan bagi diri kita untuk berubah. Dan kesempatan itu selalu dihadiahkan bagi siapa saja yang ingin menciptakannya.
“Oiya, satu lagi, Tuhan. Mungkin untuk kali ini, biarkan ia menikmati segudang rezeki yang telah kau siapkan untuknya. Semisal segerobak es krim, mungkin,” ^_^.
Saturday, November 16, 2013
Begini Saja
Ini tentang cinta sayangku, Sesuatu
yang indah dan takkan mampu kau
terjemahkan dengan lidahmu yang
hanya biasa biasa saja... Jangan pula
kau tanya kenapa aku mencinta, karna
makna telah tertera di hati kita tanpa
perlu kau minta...
Kau masih saja memaksa, sementara
aku telah menuntaskan semua
pencarian jejak aksara untuk merangkai
kata yang pantas, sudahlah...
Begini saja, seperti kataku, pejamkan matamu, sebut namaku sesaat, kau pasti akan temukan jawabannya tanpa perlu memaksa lelaki ini...cinta bukan untuk diterjemahkan sayang manisku, cinta untuk kita rasa,dan miliki utuh selamanya...percayalah, aku untukmu, dan sebaliknya....
Begini saja, seperti kataku, pejamkan matamu, sebut namaku sesaat, kau pasti akan temukan jawabannya tanpa perlu memaksa lelaki ini...cinta bukan untuk diterjemahkan sayang manisku, cinta untuk kita rasa,dan miliki utuh selamanya...percayalah, aku untukmu, dan sebaliknya....
Friday, November 15, 2013
One Sentence
Hanya satu kalimat.
Itu yang berulang-ulang aku yakinkan
sejak kau mengucapkannya. Aku harap
itu memang sebuah lelucon atau
semacamnya. Tapi ternyata hanya
harapan, sulit untuk menyebutnya
sebagai lelucon sungguhan. Dan
selama aku tak berhenti memikirkannya,
aku selalu merasa salah. Benar-benar
merasa sangat salah sudah melangkah
sejauh ini. Sangat merasa salah telah
membiarkan perasaan ini. Dan terlalu
salah untuk tidak melakukan apa-apa.
Taukah kau,
Bahwa dari awal akupun tak menghendaki semuanya terjadi seperti sekarang. Tak ada sedikitpun niat untuk mengubahmu menjadi orang terjahat dimatanya. Tak ada secuilpun rasa bahagia saat perlahan-lahan aku merasa keadaan mulai berpihak padaku. Dan tak ada satupun kebohongan saat aku mengatakan semua perasaanku sejauh ini padamu.
Sedikitpun tak ada.
Ku harap kau tahu, Jika aku mampu, aku tak akan pernah sejahat dan setega itu mebuat kau terlihat tidak baik dimatanya. Jika aku bisa, aku tak akan pernah mengizinkan rasaku bertambah setiap harinya. Jika aku dapat, aku akan mengulang waktu itu dan tak akan pernah muncul di depanmu sekalipun. Jika aku sanggup, sekarang juga aku akan menghentikan semua perasaan yang semaikin tidak karuan ini. Dan jika aku tak kesulitan, aku ingin mengakhiri semua ini hingga segalanya ada pada tempatnya, kalaupun itu harus membuatku menghentikan perasaanku. Tapi kau tahu, aku tidak bisa.
Takut, Sangat takut untuk kehilangan semua rasa ini. Sungguh takut membayangkan andai semua ini berakhir terlalu cepat. Bahkan terlalu takut untuk melihatmu kacau karena keadaan ini. Satu hal yang benar-benar tidak sanggup aku lakukan adalah saat mendengarmu merasa sakit telah menyakiti orang lain. Karena saat
meihatmu kacau seperti itu, selalu ada yang memaksa ingin keluar dari mataku.
Saat kau mengatakan tidak sanggup jauh dariku, percayalah.... Aku lebih tidak sanggup lagi untuk harus mengakhiri semua ini begitu saja. Dan akupun tidak menginginkan semua rasaku untukmu berkurang sedikitpun. Walaupun terlalu sulit, aku menginginkanmu tanpa menyakiti siapapun.
Taukah kau,
Bahwa dari awal akupun tak menghendaki semuanya terjadi seperti sekarang. Tak ada sedikitpun niat untuk mengubahmu menjadi orang terjahat dimatanya. Tak ada secuilpun rasa bahagia saat perlahan-lahan aku merasa keadaan mulai berpihak padaku. Dan tak ada satupun kebohongan saat aku mengatakan semua perasaanku sejauh ini padamu.
Sedikitpun tak ada.
Ku harap kau tahu, Jika aku mampu, aku tak akan pernah sejahat dan setega itu mebuat kau terlihat tidak baik dimatanya. Jika aku bisa, aku tak akan pernah mengizinkan rasaku bertambah setiap harinya. Jika aku dapat, aku akan mengulang waktu itu dan tak akan pernah muncul di depanmu sekalipun. Jika aku sanggup, sekarang juga aku akan menghentikan semua perasaan yang semaikin tidak karuan ini. Dan jika aku tak kesulitan, aku ingin mengakhiri semua ini hingga segalanya ada pada tempatnya, kalaupun itu harus membuatku menghentikan perasaanku. Tapi kau tahu, aku tidak bisa.
Takut, Sangat takut untuk kehilangan semua rasa ini. Sungguh takut membayangkan andai semua ini berakhir terlalu cepat. Bahkan terlalu takut untuk melihatmu kacau karena keadaan ini. Satu hal yang benar-benar tidak sanggup aku lakukan adalah saat mendengarmu merasa sakit telah menyakiti orang lain. Karena saat
meihatmu kacau seperti itu, selalu ada yang memaksa ingin keluar dari mataku.
Saat kau mengatakan tidak sanggup jauh dariku, percayalah.... Aku lebih tidak sanggup lagi untuk harus mengakhiri semua ini begitu saja. Dan akupun tidak menginginkan semua rasaku untukmu berkurang sedikitpun. Walaupun terlalu sulit, aku menginginkanmu tanpa menyakiti siapapun.
Monday, October 28, 2013
Ini Rindu...
Ini rindu entah kemana akan dilautkan
membasai, mengalir demikian derasnya
Padamu jua
Padamu jua
Datanglah sesaat saja
sebagai muara
agar reda sesaknya
Bengkalis, 26 okt 2013
Monday, May 6, 2013
Sia Sia...
Di ujung waktu...
pada waktu yang telah kita sepakati...
aku mengais sisa hadirmu...
sia sia...
tak berdaya...
(panam- pekabaru 2013)
Monday, January 28, 2013
Profile
Banyak orang bertanya pada saya tentang identitas saya sampe ada yang
tanya tentang kehidupan saya, bahkan ada yang tanya tentang status
hubungan asmara saya.
Nama saya adalah Roy. biasa dipanggil Kanwa atau Pecok. Nama lengkap saya Roy Hasanuddin, tapi cukup panggil saya Kanwa. kenapa bisa di panggil kanwa? sebenarnya saya lebih akrab di panggil pecok. akibat ulah saya yang menganti id twitter menjadi @udinpecok tapi saya mulai merubah itu menjadi @roykanwa dan dengan alasanya karena ini nama pena saya, Oke. Perjalanan hidup saya memang lika liku, kenapa begitu? karena alur hidup saya tidak pernah di satu tempat alias pelompat . lompat pager sekolah, lompat cinta sahabat, lompat tali, lompat jembatan siak dan lompat - lompat lainnya.
Saya lahir di kota Sragen, 10 Oktober 1993 adalah putra dari pasangan dari Bapak Choeri Suparman dan Ibu Wiji Lestari. Saya anak ke 2 dari 3 bersaudara. Jl. Dahlia Ujung Nomer 56, kota Pekanbaru adalah alamat lengkap rumah saya sekarang .
Waktu kecil saya lahir di sragen. Saya lahir dan kecil di kampung halaman, dari keluarga serba pas pasan, kemudian hijrah ke pekanbaru, walau kondisi keluarga yang cukup tidak terlalu kekurangan tapi tetap saya bisa belajar.
Jenjang Pendidikan :
Taman Kanak - kanak, TK Al- Munawarroh adalah nama taman bermain saya ketika masih belum cukup umur untuk mengikuti jenjang persekolahan, hanya tingal sebagian teman yang ku ingat, dede, rida, tomy? :)
Sekolah Dasar, SDN 025 Sukajadi, Pekanbaru adalah nama sekolah dasar saya,
sekarang namasekolahnya udah di ubah jadi SDN089 Pekanbaru. Disekolah ini i have many friends dendi, riski, riji, fenny, harpy, reza, mila, denis, and many more remember the face but not the name :)
Saat SMP saya ingin melanjutkan belajar saya dan bukan cuma sekolah, dan saya mendapatkan kelas esklusif karena di tawari progran akselerasi dari sekolan SMPN 1 Pekanbaru. Cukup nekad kalo orang
bilang ke saya, dimana saya dengan kondisi keuangan keluarga yang masih belum bisa dikatakan cukup tersebut, dan nenkad memngambil program sekolah yang biayanya diatas biaaya sekolah reguler biasa, tapi jujur selama dua tahun justru saya mendapat banyak inspirasi kehidupan from many friends dan many beasiswa tentunya.
SMA, lulus sekolah dari saya mencoba mencari pengalaman lain di
daerah yang belum pernah saya jamah dan pastinya tantangan baru ya. SMA Negri 1 Pekanbaru, merupakan destinasi terakhir jenjang persekolahan saya. disini saya juga mengambil progam percepatan atau akselerasi sehingga saya tamat lebih cepat. Go a head Teman.
Sekarang saya kuliah di salah
satu universitas di Pekanbaru yaitu Universitas Riau dan saya
mengambil jurusan manajemen. Sekarang saya baru semester 6, entah anda baca kapan setelah tulisan ini, yang pastinya sejarah saya akan selalu saya update. Hobi saya adalah membaca ,
selain itu saya hobi mendengarkan musik sambil belajar, tentunya musik yang tidak heras meski menghentak hentak. lagu - lagu favorit saya adalah lagu - lagu dari letto pastinya, mereka menginspirasikan. Harapan saya kedepan adalah saya ingin
membahagiakan kedua orang tua dan seluruh keluarga saya, saya ingin
menjadi orang yang berguna bagi keluarga, bangsa, agama, tentunya juga
buat pujaan hati saya, dan semuanya yang terbaik buat saya, keluarga
saya, teman saya dan tentunya juga buat pasangan saya nantinya. Semoga
saja semua harapan saya terwujud. Amin!
Mungkin banyak orang yang melihat tulisan profil saya dari situs yang
ada dalam dunia maya, tapi jangan khawatir tentang info
yang saya berikan pada anda. Karena mungkin profil saya akan update lagi
beberapa waktu yang akan datang.
Sekian dari perkenalan saya, semoga kita selalu menjadi sodara dan mencari sesuatu yang berguna dalam dunia maya. Saya Kanwa, terimakasih.
Friday, November 30, 2012
Before Desember
Sepi Ini Membunuhku. Entah apa yang ada dibenakku. Di tengah kesendirianku yang menyebalkan ini. Banyak teman tapi kadang sering merasa tak nyaman. Banyak kawan tapi sering merasa kesepian. Berusaha untuk gak cengeng tapi kenyataannya aku gak lebih dari seorang manusia biasa yang bisa juga melenceng. Melenceng dari sikap yang semestinya. Sesuai dengan usia yang aku punya. Hahahaha..
Film India masih bergulir dengan kisah cinta segitiganya. Aku gak juga bisa menikmati sepenuhnya di layar kaca. Serasa sebagian jiwaku terbang entah kemana. Seperti status Line ku saat ini, “Searching the Missing Soul”. Mencari tapi tak mencari. Menunggu tapi tak menunggu. Aku membiarkan diriku tersiksa secara perlahan. Mencoba menikmati semuanya.
Aku kadang bertanya dalam hati, siapa yang akhirnya mampu membunuh sepi yang siap membunuhku. Siapa wanita yang akhirnya bisa membuat aku bahagia sepenuhnya. Menemani aku yang sebenarnya jauh dari sempurna.
Mellow Attack
Hihihihi..
Gak pernah terbersit kalo pada akhirnya ada orang yang mau baca tulisan-tulisanku yang gak berbobot ini. Aku hanya sebatas menulis apa yang aku mau dan aku pikirkan. gak lebih, gak kurang. Mood merangkai kata yang kupunya lebih sering bikin aku terdiam di satu titik dan gak berbuat apa-apa.
Malas menuliskan apa yang aku rasa dan aku punya selama ini. So many story to tell, tapi tetep aja, so little time to share..
Hidupku belakangan ini emang lagi melow-melownya. Bawaan dari orok kali. Atau jangan-jangan tanpa aku
sadari, dalam perut emakku, aku udah sering banget ngerasa melow. Murung, sedih, and terpaku sendiri.
Hihihihi.. Lebay gila.
Tapi gak mengapa lah. Aku tetep mensyukuri apa yg kupunya. Rasa ini gak semua orang bisa punya. Terlebih lagi ketika orang itu udah mati rasa. Sebenernya kalo disuruh memilih, aku gak mau terus-terusan melow gak jelas gini. Tapi apa mau dikata, terlalu banyak story yang bikin aku gak begitu menikmati hidup yang kupunya. Orang mungkin berpikir aku punya segalanya. Bisa mendapatkan segalanya. Tapi ternyata mereka salah.
Luar diriku gak selamanya mencerminkan isinya. Aku ternyata tetap manusia biasa yang bisa juga merasa sedih dan kecewa. Meski pada akhirnya berlebihan, aku tetep mengganggap itu semua proses hidup belaka. Karena aku yakin, semua ada masanya. Ada waktunya...
Kegembiraan yang kupunya gak selamanya bikin aku tertawa. Begitupun dengan kesedihan yang kadang
mendera. Gak selamanya membuatku menitikkan air mata. I'm just try to be balance in everything. Meski mungkin orang lain melihat sebaliknya. Yang aku sesalkan, kenapa saat aku melow, aku justru bisa menumpahkan semuanya. Mengalirkan kisah dalam bentuk kata. Menelurkan cerita dalam bentuk yang lebih nyata dan bisa dicerna. Sudah kodratnya begitu kali yah. Sama halnya ketika kita mengadu kepada Yang Maha Kuasa. Jarang banget dari kita bercerita kepada-NYA di saat kita sedang happy-happynya.
Pasti saat sedih aja. Saat kecewa melanda. Saat gundah menyapa. Shit banget deh. Liat aja. Aku padahal
niatnya mau nulis santai dan gak terkesan rapih and teratur, ini malah kaya prosa banget. Jadi terkesan sok
puitis. Huuufff.. Knapa sih gak semengalir penulis-penulis edan yang ada di jagat kata Indonesia atau dunia?
Atau memang pola otakku udah ter- mindset buat nulis model kaya gini. Hahahaha.. Gak ngerti lah. Intinya aku cuma pengen nulis aja. Mumpung otakku mau berpikir sejenak, and jari-jariku mau diajak kerjasama sesaat.
Seperti menulis diary, tapi inconditional. Artinya, aku nulis diary seenak jidatku aja. Gak pernah ada cerita yang bener-bener spesial and somethin yang kuceritakan di tulisan-tulisanku. Ngeblur. Gak jelas. Flicker...
Seperti saat ini. Aku kembali melow dengan hidupku. Boring dengan rutinitasku. Jenuh dengan alur hidupku. Gak bersyukur banget ya aku. Emang dasar si Roy, tak tau terimakasih. Hihihihi.. Aku terima aja deh kalo lo semua bilang gitu. Emang kenyataannya aku begitu. Kelebihan yang kupunya tertutup semua oleh kekurangan yang jumlahnya kecil adanya. Damn! I'm not good at all.
Dan aku harap Besok Timnas Indonesia mengalahkan Malaysia dengan Telak. Amin. trims
Film India masih bergulir dengan kisah cinta segitiganya. Aku gak juga bisa menikmati sepenuhnya di layar kaca. Serasa sebagian jiwaku terbang entah kemana. Seperti status Line ku saat ini, “Searching the Missing Soul”. Mencari tapi tak mencari. Menunggu tapi tak menunggu. Aku membiarkan diriku tersiksa secara perlahan. Mencoba menikmati semuanya.
Aku kadang bertanya dalam hati, siapa yang akhirnya mampu membunuh sepi yang siap membunuhku. Siapa wanita yang akhirnya bisa membuat aku bahagia sepenuhnya. Menemani aku yang sebenarnya jauh dari sempurna.
Mellow Attack
Hihihihi..
Gak pernah terbersit kalo pada akhirnya ada orang yang mau baca tulisan-tulisanku yang gak berbobot ini. Aku hanya sebatas menulis apa yang aku mau dan aku pikirkan. gak lebih, gak kurang. Mood merangkai kata yang kupunya lebih sering bikin aku terdiam di satu titik dan gak berbuat apa-apa.
Malas menuliskan apa yang aku rasa dan aku punya selama ini. So many story to tell, tapi tetep aja, so little time to share..
Hidupku belakangan ini emang lagi melow-melownya. Bawaan dari orok kali. Atau jangan-jangan tanpa aku
sadari, dalam perut emakku, aku udah sering banget ngerasa melow. Murung, sedih, and terpaku sendiri.
Hihihihi.. Lebay gila.
Tapi gak mengapa lah. Aku tetep mensyukuri apa yg kupunya. Rasa ini gak semua orang bisa punya. Terlebih lagi ketika orang itu udah mati rasa. Sebenernya kalo disuruh memilih, aku gak mau terus-terusan melow gak jelas gini. Tapi apa mau dikata, terlalu banyak story yang bikin aku gak begitu menikmati hidup yang kupunya. Orang mungkin berpikir aku punya segalanya. Bisa mendapatkan segalanya. Tapi ternyata mereka salah.
Luar diriku gak selamanya mencerminkan isinya. Aku ternyata tetap manusia biasa yang bisa juga merasa sedih dan kecewa. Meski pada akhirnya berlebihan, aku tetep mengganggap itu semua proses hidup belaka. Karena aku yakin, semua ada masanya. Ada waktunya...
Kegembiraan yang kupunya gak selamanya bikin aku tertawa. Begitupun dengan kesedihan yang kadang
mendera. Gak selamanya membuatku menitikkan air mata. I'm just try to be balance in everything. Meski mungkin orang lain melihat sebaliknya. Yang aku sesalkan, kenapa saat aku melow, aku justru bisa menumpahkan semuanya. Mengalirkan kisah dalam bentuk kata. Menelurkan cerita dalam bentuk yang lebih nyata dan bisa dicerna. Sudah kodratnya begitu kali yah. Sama halnya ketika kita mengadu kepada Yang Maha Kuasa. Jarang banget dari kita bercerita kepada-NYA di saat kita sedang happy-happynya.
Pasti saat sedih aja. Saat kecewa melanda. Saat gundah menyapa. Shit banget deh. Liat aja. Aku padahal
niatnya mau nulis santai dan gak terkesan rapih and teratur, ini malah kaya prosa banget. Jadi terkesan sok
puitis. Huuufff.. Knapa sih gak semengalir penulis-penulis edan yang ada di jagat kata Indonesia atau dunia?
Atau memang pola otakku udah ter- mindset buat nulis model kaya gini. Hahahaha.. Gak ngerti lah. Intinya aku cuma pengen nulis aja. Mumpung otakku mau berpikir sejenak, and jari-jariku mau diajak kerjasama sesaat.
Seperti menulis diary, tapi inconditional. Artinya, aku nulis diary seenak jidatku aja. Gak pernah ada cerita yang bener-bener spesial and somethin yang kuceritakan di tulisan-tulisanku. Ngeblur. Gak jelas. Flicker...
Seperti saat ini. Aku kembali melow dengan hidupku. Boring dengan rutinitasku. Jenuh dengan alur hidupku. Gak bersyukur banget ya aku. Emang dasar si Roy, tak tau terimakasih. Hihihihi.. Aku terima aja deh kalo lo semua bilang gitu. Emang kenyataannya aku begitu. Kelebihan yang kupunya tertutup semua oleh kekurangan yang jumlahnya kecil adanya. Damn! I'm not good at all.
Dan aku harap Besok Timnas Indonesia mengalahkan Malaysia dengan Telak. Amin. trims
Thursday, November 22, 2012
Nasty Night.
"Si ruh wana si ruh yaa manu..Aji ku aji sambung asih,Cahya ku cahya sejati,owah gingsir sifating urip,tresno manjing dadi sawiji ora pisah salawase,kuating tekat lan nekat,madep manteb saking karsaning Gusti"
Mestinya malam ini tak ku sebut namamu. Tapi suara hatiku terus mendesak
dinding hati agar segera duduk bersimpuh, mengingatmu. Sudah ku coba
bernegosiasi agar besok saja apa yang terkata ku katakan, apa yang
tersirat ku suratkan, dan apa yang terbersit ku ikrarkan dalam satu
lafazd mantra cinta. Sayang, aku tiada punya pilihan karena malam ini
lah langit bening hatiku tak terhalang awan. Saat yang tepat untuk
berkasih sayang denganmu. Ya, hanya dengan mu walau lewat getaran rasa.
Malam ini. Ya, malam ini. Malam ini, saat yang tepat bagi ku membaca
mantra cinta. Malam ini, dengan mantra cinta ku ingin lautan rasa tenang
dalam tarian kepasrahan, langit hati terjauh dari awan hitam, dan
gemuruh jiwa kembali tenang bertahta di istana hati. Ku ingin dengan
mantra cinta yang kulafadz membuat engkau hadir dilangit hatiku. Ya,
karena di langit hati lah aku dan kau bisa bertemu dalam rasa dan
getaran.
Dengan menyebut namamu rangkaian kata mantra ku bacakan, dan dengan
menyebut namamu kesadaran akan engkau ku tinggikan. Dengan menyebut
namamu engkau ku hadirkan, dan dengan menyebut namamu cinta ku dapatkan.
Dan ku ingin dengan menyebut-nyebut namamu kita bisa segera bertemu
dalam satu senyuman penuh cinta.
Duhai kekasih, aku rindu dan tiada yang kuharap selain bersatu dalam
kesucian cintamu. Jangan tinggalkan aku agar aku tiada tersesat dalam
perjalanan waktu, dan dengan belaian kasih mu semalam ku ingin malam ini
kau juga membelai hatiku dengan kasih sayangmu.
Duh, Gusti
Kupanggil kau,kasih.
Untuk mencintaiku melebihi siapapun.
Kutusuk hatimu 7 kali dengan nama gaib arjuna.
Kuikat hati dan jiwamu dengan diriku.
Sampai kuputuskan untuk melepaskanmu.
Kukirim mantra ini untuk menghubungimu.
Dan kutaburi dengan kemauanku.
Tidurlah, kekasihku. Kan kukirim mimpi terindah dengan sejuta mantra yang kudedah.
Lalu kau tunjukkan aku jalan menuju hatimu. Di sana ada sebuah ruang, di mana aku dapat bermain, dan terlelap dengan tenang. Sudah berapa malam? tanyaku. Aku tak ingin kisah ini redam. Seribu kunang-kunang di Mataram akan ikut padam tertiup dinginnya malam.
Mendekatlah, biar kudekap. Kau menarik tubuhku. Seharian kau bermain, menari di ruang hati. Kan kubelai rambutmu dengan dongengan malam.
Saturday, October 27, 2012
Angin Pagi Mantra Senjamu.
Angin pagi yang menggigit tulangku kuhembuskan menyusup ke ragamu untuk membangunkanmu bibir bidadari langit menyentuh pipimu, agar kau terjaga….... (-nn-,15 agustus 2009)
UNTUKMU
Kucoba selami lautan dalam di matamu begitu hangat menyejukkan perahu jiwaku membelai hati memanjakan kalbu dalam pancaran cinta yang sayu kucoba renungi pahatan indah senyummu. Melengkung manis di sudut bibirmu terukir lembut membangkitkan asaku dalam lekuk kerut-kerut usiamu. Kucoba rasakan indahnya peluk tubuhmu merengkuh segala penat dan lesuku menyalurkan cinta dan asa yang baru dalam ringkih rangka ragamu.
Kucoba menyusup ruang hatimu meresapi jutaan rasa yang tersimpan rapi di situ melukiskan asa yang selalu baru tuk membawa hati dan jiwamu bahagia selalu. (-dd-, 27 Februari 2010)
Sepi 2
Kemana kan kubawa perih ini. ketika tak kudapati lagi bahumu untuk bersandar? Gontai menjejak bumi, menangis mengais hati. Jejakku menilas luka, luruh dalam genangan air mata. Sanggupkah aku merelakan langkahmu melenggang sendiri di padang peluh ini, sementara jiwaku masih takluk padamu. Sampai detik ini, aku masih memburu bayangmu. Ingin ku menyusup ragamu.
Nyata senyatanya bukan fatamorgana apalagi mimpi bunga tidurku. Aku rela didera rindu yang bertalu-talu. Menggunung di atap kamar. Dalam desah pagi yang makin hanyut ditelan sepi. Disini, aku terus memantul wajah ayu, milikmu. (-sinai-, 3 September 2010)
Kamis, 21 April 2011
Mantra Kala untuk semuanya....
..Tetes hujan merintih ditengah kangenku, jika usai hujan di senja ini, kuberharap pelangi dihadirkan oleh
Tuhanku, untuk mengobati rindu yang semakin meronta diujung kalbu.. (-sindu-)
Dear Mantra...
Senja ini dilangit tak lagi merona merah maroon seperti wajahmu tatkala mengucap rindu. Hujan begitu deras mengguyur bumi, seperti tangisan rinduku. Dingin menyusup setiap pori pori kulitku,membuat hatiku beku...
Padahal dunia tau mantra, aku suka langit senja. Jika senja tiba memayungi langit tempatku berpijak, aku senang memandangnya. Terkadang ada sedikit harap, temukan wajahmu yang berhias senyum diufuk barat sana. Yang tenggelam perlahan seiring mentari yang menjemput impian kembali ke peraduannya. Berharap rindu kan terobati, walau hanya ilusi yang kucipta di dalam benakku yang tak sempurna. Ya benar benar selintas ilusi :D
Kadang kusempatkan melongok dari jendela kamarku,hanya untuk memandang langit itu. Menyibak perlahan hamparan mega, dan hanya untuk mencari segurat senyummu. Seperti senja yang kutulis ini mantra, aku tengah berada di ruang kerja yang bising oleh suara suara mendenging. Membuat
tegang setiap lorong serabut syaraf diotakku. Carut marut namun dingin masih saja menyusup. Ditemani segelas Nescafe hangat, aku mencoba menuliskan mantra mantra ajaib untuk mewujudkan keinginanku lewat tarian lincah jemariku pada keyboard laptop didepanku. Sambil sesekali aku memandangi curah hujan yang bercanda riang dari kaca ruang aku berada. Ah entahlah...kau juga tau aku tak suka
minum kopi. Namun saat ini tubuhku memaksaku meminumnya. Karena dingin ini menggigilkan anganku, dan merapuhkan pilar imajiku...ehmm beku... Masih ditemani alunan lembut lagu ST 12 dengan judulnya : Aku masih sayang padamu :)
Rasanya berbeda pada saat beberapa malam lalu, menikmati rintik ritmis hujan seraya meminum teh campur madu yang kau buatkan untukku, dan masih tetap dengan alunan lembut ST 12, yang mengatakan bahwa Aku masih sayang padamu.Dan kau berada di sampingku, menambah kehangatan yang selalu
kurindukan saat sosok manusia tanpa ragamu berada jauh dari raga gersangku. Namun kali kunikmati Ini tanpa mantra, tak terlalu hampa untuk mengusir dingin . Meski dalam hatiku tetap berkata, andai kau ada disini...
Ehmm...hujan masih bercanda ria di luar sana. Gelegar guntur sesekali meneriakkan kegarangannya, seolah marah kepada insan bumi yang terus saja membajak alam tanpa perasaan.
Ah...biarkan saja,satu yang aku harapkan mantra semoga dirimu berada ditempat yang teduh dan andaikan kau berada di antara canda hujan, semoga mantra saktimu tetap melindungi dari dingin ini. Semoga kau berada dalam kamarmu menikmati nyanyian hujan dengan hati riang. Dan kehangatan selalu menjagamu, sehangat senyummu yang menghangatkan dinginnya kalbu. Itu harapku mantra...(lirih ku berdoa dalam
hati untukmu)
Semoga harimu selalu membawa arti baru, meski kadang cuaca tak bersahabat. Seperti hujan senja ini, yang mungkin menghalangi aktifitasmu untuk meraih mimpi baru. Tetaplah melangkah,
meski dalam benakmu :)
Oke dear....aku cukupkan mantra senjaku kali ini. Aku masih kedinginan, namun senyum mayamu masih setia di layar ajaibku. Masih tersenyum hangat dan membius pandanganku... Tak lupa kukatakan, aku rindu dirimu..... (-Senja-, 23 Oktober 2012)
UNTUKMU
Kucoba selami lautan dalam di matamu begitu hangat menyejukkan perahu jiwaku membelai hati memanjakan kalbu dalam pancaran cinta yang sayu kucoba renungi pahatan indah senyummu. Melengkung manis di sudut bibirmu terukir lembut membangkitkan asaku dalam lekuk kerut-kerut usiamu. Kucoba rasakan indahnya peluk tubuhmu merengkuh segala penat dan lesuku menyalurkan cinta dan asa yang baru dalam ringkih rangka ragamu.
Kucoba menyusup ruang hatimu meresapi jutaan rasa yang tersimpan rapi di situ melukiskan asa yang selalu baru tuk membawa hati dan jiwamu bahagia selalu. (-dd-, 27 Februari 2010)
Sepi 2
Kemana kan kubawa perih ini. ketika tak kudapati lagi bahumu untuk bersandar? Gontai menjejak bumi, menangis mengais hati. Jejakku menilas luka, luruh dalam genangan air mata. Sanggupkah aku merelakan langkahmu melenggang sendiri di padang peluh ini, sementara jiwaku masih takluk padamu. Sampai detik ini, aku masih memburu bayangmu. Ingin ku menyusup ragamu.
Nyata senyatanya bukan fatamorgana apalagi mimpi bunga tidurku. Aku rela didera rindu yang bertalu-talu. Menggunung di atap kamar. Dalam desah pagi yang makin hanyut ditelan sepi. Disini, aku terus memantul wajah ayu, milikmu. (-sinai-, 3 September 2010)
Kamis, 21 April 2011
Mantra Kala untuk semuanya....
..Tetes hujan merintih ditengah kangenku, jika usai hujan di senja ini, kuberharap pelangi dihadirkan oleh
Tuhanku, untuk mengobati rindu yang semakin meronta diujung kalbu.. (-sindu-)
Dear Mantra...
Senja ini dilangit tak lagi merona merah maroon seperti wajahmu tatkala mengucap rindu. Hujan begitu deras mengguyur bumi, seperti tangisan rinduku. Dingin menyusup setiap pori pori kulitku,membuat hatiku beku...
Padahal dunia tau mantra, aku suka langit senja. Jika senja tiba memayungi langit tempatku berpijak, aku senang memandangnya. Terkadang ada sedikit harap, temukan wajahmu yang berhias senyum diufuk barat sana. Yang tenggelam perlahan seiring mentari yang menjemput impian kembali ke peraduannya. Berharap rindu kan terobati, walau hanya ilusi yang kucipta di dalam benakku yang tak sempurna. Ya benar benar selintas ilusi :D
Kadang kusempatkan melongok dari jendela kamarku,hanya untuk memandang langit itu. Menyibak perlahan hamparan mega, dan hanya untuk mencari segurat senyummu. Seperti senja yang kutulis ini mantra, aku tengah berada di ruang kerja yang bising oleh suara suara mendenging. Membuat
tegang setiap lorong serabut syaraf diotakku. Carut marut namun dingin masih saja menyusup. Ditemani segelas Nescafe hangat, aku mencoba menuliskan mantra mantra ajaib untuk mewujudkan keinginanku lewat tarian lincah jemariku pada keyboard laptop didepanku. Sambil sesekali aku memandangi curah hujan yang bercanda riang dari kaca ruang aku berada. Ah entahlah...kau juga tau aku tak suka
minum kopi. Namun saat ini tubuhku memaksaku meminumnya. Karena dingin ini menggigilkan anganku, dan merapuhkan pilar imajiku...ehmm beku... Masih ditemani alunan lembut lagu ST 12 dengan judulnya : Aku masih sayang padamu :)
Rasanya berbeda pada saat beberapa malam lalu, menikmati rintik ritmis hujan seraya meminum teh campur madu yang kau buatkan untukku, dan masih tetap dengan alunan lembut ST 12, yang mengatakan bahwa Aku masih sayang padamu.Dan kau berada di sampingku, menambah kehangatan yang selalu
kurindukan saat sosok manusia tanpa ragamu berada jauh dari raga gersangku. Namun kali kunikmati Ini tanpa mantra, tak terlalu hampa untuk mengusir dingin . Meski dalam hatiku tetap berkata, andai kau ada disini...
Ehmm...hujan masih bercanda ria di luar sana. Gelegar guntur sesekali meneriakkan kegarangannya, seolah marah kepada insan bumi yang terus saja membajak alam tanpa perasaan.
Ah...biarkan saja,satu yang aku harapkan mantra semoga dirimu berada ditempat yang teduh dan andaikan kau berada di antara canda hujan, semoga mantra saktimu tetap melindungi dari dingin ini. Semoga kau berada dalam kamarmu menikmati nyanyian hujan dengan hati riang. Dan kehangatan selalu menjagamu, sehangat senyummu yang menghangatkan dinginnya kalbu. Itu harapku mantra...(lirih ku berdoa dalam
hati untukmu)
Semoga harimu selalu membawa arti baru, meski kadang cuaca tak bersahabat. Seperti hujan senja ini, yang mungkin menghalangi aktifitasmu untuk meraih mimpi baru. Tetaplah melangkah,
meski dalam benakmu :)
Oke dear....aku cukupkan mantra senjaku kali ini. Aku masih kedinginan, namun senyum mayamu masih setia di layar ajaibku. Masih tersenyum hangat dan membius pandanganku... Tak lupa kukatakan, aku rindu dirimu..... (-Senja-, 23 Oktober 2012)
Friday, October 5, 2012
But it takes ……
It`s Takes Two Tango
Hasan tertunduk lesu. Husain cuma bisa menatap sahabat yang duduk layu di depannya dengan tatapan nanar. Tanpa berusaha sedikitpun berkomentar. Ia masih menunggu waktu yang tepat untuk berbicara. Paling tidak, Husain hanya tak ingin perasaan kawannya makin terluka. Makin merasa jadi orang yang tak berguna.
“IT TAKES TWO TANGO..!”
“Kamu tahu? Itu adalah kalimat terakhir yang terucap dari mulutnya yang indah. Di saat pertemuan terakhir kita berdua. Ketika aku tak banyak bicara. Karena kurasakan kita berdua seakan berada di dua alam yang berbeda. Meski kita saling bertatap wajah. Berurai kata. Bahkan tersenyum getir di sela kecewa.”
“Sedih tak tertandingi. Saat cinta tak punya lagi tempat di hati. Saat emosi merajai gejolak diri. Saat usai mengharuskan aku dan dia berjalan dengan kesendirian yang sejati.”
“Tatapan kosong dan hampa. Untaian kalimat tanpa makna. Gerak tubuh yang seakan tak bernyawa. Semuanya saat itu terasa tanpa cinta. Hanya dua raga yang bertemu tanpa jiwa. Dan aku harus menerima. Ketika perpisahan pula yang harus jadi pilihan semata.”
Kata demi kata perlahan terucap dari mulut Hasan. Lirih dan terasa perih.
“Tapi kenapa harus berakhir seperti ini? Saat ini? Pada saat aku mulai lelah untuk mencari arti sebuah komitmen atas dasar cinta dan kasih sayang. Pada saat aku berpikir untuk mengakhiri semua kesendirian. Pada saat aku beranjak dari keraguan dan berjalan menuju sebuah keyakinan akan arti sebuah kebersamaan. Kenapa sekarang? Apa yang salah dengan diriku? Jangan-jangan memang gak ada samasekali yang benar dalam diriku? Mmm.. Aku Cuma berusaha berbuat sebaik mungkin untuk menjadi seorang pria yang baik. Seorang kekasih yang mencoba menerima kelebihan dan kekurangan pujaan hatinya. Seorang manusia yang sedang belajar bagaimana menjalani hidup berdua dengan orang lain yang berbeda dunia dan budaya..”
Husain masih tetap terdiam. Mendengarkan Hasan bermonolog dalam kesedihan.
“Aku tak butuh apa-apa. Aku cuma butuh dihargai. Sebagai seorang lelaki. Yang katanya bakal jadi pemimpin sebuah keluarga di kemudian hari. Sebagai seorang kaum Adam yang hanya ingin menjadi sesuatu bagi Hawa tercintanya ketika bersama maupun saat sendiri. Buat apa harta duniawi, ketika rasa justru terbelenggu dan tertidur suri. Buat apa tawa terdengar kalo hati terbalut sedih. Hidup terasa mati. Tanpa hati. Tanpa nurani.”
Hening. Tanpa suara.
“Memangnya ada yang salah ketika kita menginginkan yang terbaik untuk sang sang kekasih? Apa tak layak, bila kita melindunginya setengah mati? Bukan! Bukan buat kepentingan kita pribadi. Tapi untuk kebaikan dimasa nanti..”
Ada rasa cemas yang dirasakan Husain ketika Hasan berujar.
“Aku cukup mengerti. Aku tahu bahwa pada kenyataannya tiap orang memang dicipta dengan sebuah perbedaan nyata. Tak hanya sifat. Tak pula tabiat. Meski hanya setitik kecil dan bahkan nyaris tak terlihat, pasti akan selalu ada yang bernama beda. Beda yang bisa menjadi indah. Beda yang mampu membuat nestapa. Semua tergantung bagaimana kita menyikapinya. Satu hal yang pasti. Aku tahu Aku tak akan pernah bisa menuntut sebuah perubahan yang berarti dari sang pujaan hati. Aku tak mampu sama sekali. Karena aku tahu pasti, sebuah perubahan memiliki sebuah arti, ketika dilakukan dengan sepenuh hati. Bukan karena takut dibilang tidak mencintai. Bukan pula karena hanya sekedar menyenangkan ego diri. Tapi karena kita ingin melakukannya untuk kebaikan diri kita sendiri.”
“Aku tak pernah meminta lebih. Tak pernah menuntut sebuah janji. Meski awal terucap begitu indah dan menyejukkan hati. Yup! Sebuah janji. Janji yang terikrar tanpa sebuah manipulasi. Janji yang terucap untuk saling mengerti. Saling membenahi. Saling introspeksi. Dan yang terpenting, saling mengisi.”
“Aku tahu pasti, sebuah pemikiran tak selamanya sejalan. Meski kita melangkah berdampingan. Berpegangan tangan dan saling berpandangan.”
“Lihat saja nyatanya. Aku dan dia tak sama! Benar-benar dua dunia yang berbeda. Aku pria dan dia wanita. Tak perlu melihat dari sisi yang tak tertangkap mata. Cukup satu itu saja!”
“Aku banyak belajar dari dia. Tentang hidup. Tentang bahagia. Tentang derita. Tentang suka. Tentang duka. Namun, entah apa yang ia dapat dariku? Tepatnya, entah apa yang mau ia pelajari dari pribadi seperti aku? Mungkin memang tak ada. Aku cukup sadari itu semua. Dari ujung kaki hingga ujung kepala. Memang tak ada. Aku mungkin memang hanya seorang bajingan biasa yang mencoba untuk jatuh cinta, tanpa mengerti makna cinta. Cuma sekedar gaya, tapi akhirnya lemas tak berdaya. Tak kuasa. Tak berkuasa.”
Husain makin terdiam. Tak tahu harus bicara apa bila saatnya tiba.
“Awalnya semua begitu indah. Terbayang sempurna. Aku dan dia saling cinta dan selalu seia-sekata. Komunikasi terjalin lewat tatapan muka atau sekedar suara dan kata-kata melalui layar fana. Masih gembira yang terasa meski kekurangan sudah terjabar dengan kata dan laku yang nyata. Saling menerima. itu saja intinya. Kelebihan atau kekurangan, memang sudah di depan mata. Meski terlihat satu demi satu dan kadang mengejutkan jiwa. Tapi apa mau dikata. Ketika komitmen tercetus di dada, kita hanya tinggal menjalani dengan hati yang terbuka. Berlapang dada. Itu saja. Begitupun aku adanya. Tak sedikitpun terbesit ingin merubah dan dirubah secara paksa. Apalagi dia. Karena aku tahu dia seorang wanita dengan jiwa yang merdeka. Seorang dewasa yang jauh lebih mengenal dunia. Jauh berbeda denganku yang tak mengerti apa-apa. Semuanya memang terasa begitu indah. Sangat indah. Kadang bahkan membuatku ingin teriak tak terima ketika menyadari kini semua itu sudah tiada.”
Detik waktu bergulir. Layaknya air yang sedang mengalir.
“Rasa tak percaya. Menyulut sebuah cemburu di dalam dada. Itu mungkin permulaannya. Bukan sebuah hal yang salah. Karena kita manusia. Mungkin memang sudah kodratnya. Keduanya akan merasakan hal yang sama. Meski pria dilahirkan dengan logika dan wanita dengan rasa. Kekasihku memilih untuk mengungkapkannya. Dan aku lebih memilih untuk memendam itu semua. Meyimpannya rapat-rapat dalam relung jiwa dan menahannya untuk tak keluar di waktu yang tak semestinya. Tak sampai membuatku buta. Tak sampai membuatku merasa tak dicinta. Cukup jadi rahasia hingga saatnya tiba. Baginya aku mungkin seperti seorang yang tak paham bagaimana menghadapi wanita. Baginya aku mungkin hanya seorang jalang yang senang melukai hati dan perasaannya. Baginya aku mungkin seonggok cacing tanah kepanasan yang senang menggeliat tak tentu arah. Bermain dengan cinta dan harapannya. Baginya aku tak mempunyai ruang untuknya. Dihatiku. Yang semestinya sudah menjadi miliknya seorang saja.”
Hasan menarik nafas panjang. Husain menghela nafas sam panjangnya.
“Rasa tak terima, selanjutnya. Tak senang ketika merasa dirinya tak berarti apa-apa buatku yang justru tak mengharapkan apa-apa. Rasa galau yang membuatnya berpikir prioritas hidupku dalam bercinta bukan hanya dia semata. Rasa marah yang menyelimuti jiwanya hingga menganggapku cuma orang yang tak punya rasa. Tak punya titik dewasa. Tak punya nalar dan nurani yang seharusnya. Rasa tak dihargai ketika amarahku cuma menjadikanku layaknya sebuah arca yang diletakkan di depan candi tak berharga. Kekasihku kecewa. Kekasihku nelangsa. Kekasihku terlilit derita.”
“Rasa tak dihargai sebagai manusia dan wanita seutuhnya. Mungkin saat itu yang ia rasa. Ketika jarak telah memisahkan kita tak secara nyata. Dekat tapi tanpa sua. Tak jauh tapi seakan dipisah ribuan pulau tak bernyawa. Ketika diam lebih berkuasa didiriku yang kekanakkan dan penuh cela.”
“Apa mungkin cinta memang sudah tak ada? Atau cinta akhirnya terkulai layu meski awalnya bersemi dengan indah? Aku tak bisa berujar tidak bahkan iya. Mungkin cinta itu sudah redup. Perlahan dihantam ego semata. Ego sebagai seorang pria yang tak punya harta yang lebih berharga selain pendamping hidupnya kelak semata. Ego seorang lelaki yang hanya butuh dihargai tanpa perlu dicaci atas titahnya kepada wanita yang menjadi tanggungjawabnya. Ego seorang yang bisa juga merasa sedih ketika ucap dan katanya tak mampu menjadi sesuatu yang berarti. Hanya melenggak gemulai dari telinga kanan, dan sesaat kemudian melenggok santai dari telinga kiri.”
“Mau jadi apa nantinya kalo kalimatku tak punya nilai apa-apa? Mau berakhir seperti apa ketika inginku cuma terlihat seperti tuntutan yang terlalu mengada- ada? Mau dibawa kemana perahu cinta kita ketika ada dua nahkoda di dalamnya?”
Husain makin terkunci dalam sunyi.
Hasan makin menari dalam sedih. “Mungkin ini hanya secuil perasaan tak penting yang aku rasa. Mungkin ia merasakan rasa yang jauh lebih menyedihkan bahkan mengecewakan dari yang aku punya. Mungkin aku yang jahanam dan dia yang mulia. Mungkin aku si buruk rupa dan dia yang mempesona bentuknya. Mungkin memang sepenuhnya aku yang salah. Tak bisa mencintai kekasihku dengan cara yang sempurna.”
“Mungkin memang itu adanya. Dan aku hanya berharap ia tak membenciku karena kelemahanku yang tak terhingga.”
“Aku harap ia tak membenciku karena itu..”
Husain merasakan sebuah kehilangan yang sangat datang dari hati sahabatnya.
“Hanya saja. Aku juga manusia. Yang punya rasa dan ingin yang menggelora. Yang memiliki hasrat untuk membuatnya selalu bahagia meski hasilnya tak seindah yang aku kira. Aku juga tak mau membuatnya bersedih dalam menjalani hari. Terkukung dalam kekangan yang tak mesti. Aku ingin dia bahagia. Meski tanpa aku kini di sampingnya.”
“Andai saja..”
Terdiam. Termenung.
“Andai saja wanitaku mau tuk belajar mencintai dirinya sepenuh hati, maka akupun bisa belajar mencintainya dengan sebenarnya hati. Andai saja perempuanku mau mencoba menyayangi seluruh harta yang ia miliki, aku juga kan berusah merawat cintaku padanya dengan cara yang hakiki. Andai saja ia mau belajar untuk menghargai. Aku mungkin tak hanya menganggapnya seorang permaisuri seperti saat bertemu dengannya pertama kali dan hingga kini. Andai ia mau melakukan itu semua dengan sepenuh jiwa dan hati, aku pasti telah menjadikannya seorang bidadari..”
Husain tak bisa mengeluarkan kata. Karena Hasan pun sudah tak memiliki kata. Husain sadari satu hal sudah. Hasan sudah kehilangan sebuah cinta..
Hasan tertunduk lesu. Husain cuma bisa menatap sahabat yang duduk layu di depannya dengan tatapan nanar. Tanpa berusaha sedikitpun berkomentar. Ia masih menunggu waktu yang tepat untuk berbicara. Paling tidak, Husain hanya tak ingin perasaan kawannya makin terluka. Makin merasa jadi orang yang tak berguna.
“IT TAKES TWO TANGO..!”
![]() |
| But It`s Takes Two Tango |
“Kamu tahu? Itu adalah kalimat terakhir yang terucap dari mulutnya yang indah. Di saat pertemuan terakhir kita berdua. Ketika aku tak banyak bicara. Karena kurasakan kita berdua seakan berada di dua alam yang berbeda. Meski kita saling bertatap wajah. Berurai kata. Bahkan tersenyum getir di sela kecewa.”
“Sedih tak tertandingi. Saat cinta tak punya lagi tempat di hati. Saat emosi merajai gejolak diri. Saat usai mengharuskan aku dan dia berjalan dengan kesendirian yang sejati.”
“Tatapan kosong dan hampa. Untaian kalimat tanpa makna. Gerak tubuh yang seakan tak bernyawa. Semuanya saat itu terasa tanpa cinta. Hanya dua raga yang bertemu tanpa jiwa. Dan aku harus menerima. Ketika perpisahan pula yang harus jadi pilihan semata.”
Kata demi kata perlahan terucap dari mulut Hasan. Lirih dan terasa perih.
“Tapi kenapa harus berakhir seperti ini? Saat ini? Pada saat aku mulai lelah untuk mencari arti sebuah komitmen atas dasar cinta dan kasih sayang. Pada saat aku berpikir untuk mengakhiri semua kesendirian. Pada saat aku beranjak dari keraguan dan berjalan menuju sebuah keyakinan akan arti sebuah kebersamaan. Kenapa sekarang? Apa yang salah dengan diriku? Jangan-jangan memang gak ada samasekali yang benar dalam diriku? Mmm.. Aku Cuma berusaha berbuat sebaik mungkin untuk menjadi seorang pria yang baik. Seorang kekasih yang mencoba menerima kelebihan dan kekurangan pujaan hatinya. Seorang manusia yang sedang belajar bagaimana menjalani hidup berdua dengan orang lain yang berbeda dunia dan budaya..”
Husain masih tetap terdiam. Mendengarkan Hasan bermonolog dalam kesedihan.
“Aku tak butuh apa-apa. Aku cuma butuh dihargai. Sebagai seorang lelaki. Yang katanya bakal jadi pemimpin sebuah keluarga di kemudian hari. Sebagai seorang kaum Adam yang hanya ingin menjadi sesuatu bagi Hawa tercintanya ketika bersama maupun saat sendiri. Buat apa harta duniawi, ketika rasa justru terbelenggu dan tertidur suri. Buat apa tawa terdengar kalo hati terbalut sedih. Hidup terasa mati. Tanpa hati. Tanpa nurani.”
Hening. Tanpa suara.
“Memangnya ada yang salah ketika kita menginginkan yang terbaik untuk sang sang kekasih? Apa tak layak, bila kita melindunginya setengah mati? Bukan! Bukan buat kepentingan kita pribadi. Tapi untuk kebaikan dimasa nanti..”
Ada rasa cemas yang dirasakan Husain ketika Hasan berujar.
“Aku cukup mengerti. Aku tahu bahwa pada kenyataannya tiap orang memang dicipta dengan sebuah perbedaan nyata. Tak hanya sifat. Tak pula tabiat. Meski hanya setitik kecil dan bahkan nyaris tak terlihat, pasti akan selalu ada yang bernama beda. Beda yang bisa menjadi indah. Beda yang mampu membuat nestapa. Semua tergantung bagaimana kita menyikapinya. Satu hal yang pasti. Aku tahu Aku tak akan pernah bisa menuntut sebuah perubahan yang berarti dari sang pujaan hati. Aku tak mampu sama sekali. Karena aku tahu pasti, sebuah perubahan memiliki sebuah arti, ketika dilakukan dengan sepenuh hati. Bukan karena takut dibilang tidak mencintai. Bukan pula karena hanya sekedar menyenangkan ego diri. Tapi karena kita ingin melakukannya untuk kebaikan diri kita sendiri.”
“Aku tak pernah meminta lebih. Tak pernah menuntut sebuah janji. Meski awal terucap begitu indah dan menyejukkan hati. Yup! Sebuah janji. Janji yang terikrar tanpa sebuah manipulasi. Janji yang terucap untuk saling mengerti. Saling membenahi. Saling introspeksi. Dan yang terpenting, saling mengisi.”
“Aku tahu pasti, sebuah pemikiran tak selamanya sejalan. Meski kita melangkah berdampingan. Berpegangan tangan dan saling berpandangan.”
“Lihat saja nyatanya. Aku dan dia tak sama! Benar-benar dua dunia yang berbeda. Aku pria dan dia wanita. Tak perlu melihat dari sisi yang tak tertangkap mata. Cukup satu itu saja!”
“Aku banyak belajar dari dia. Tentang hidup. Tentang bahagia. Tentang derita. Tentang suka. Tentang duka. Namun, entah apa yang ia dapat dariku? Tepatnya, entah apa yang mau ia pelajari dari pribadi seperti aku? Mungkin memang tak ada. Aku cukup sadari itu semua. Dari ujung kaki hingga ujung kepala. Memang tak ada. Aku mungkin memang hanya seorang bajingan biasa yang mencoba untuk jatuh cinta, tanpa mengerti makna cinta. Cuma sekedar gaya, tapi akhirnya lemas tak berdaya. Tak kuasa. Tak berkuasa.”
Husain makin terdiam. Tak tahu harus bicara apa bila saatnya tiba.
“Awalnya semua begitu indah. Terbayang sempurna. Aku dan dia saling cinta dan selalu seia-sekata. Komunikasi terjalin lewat tatapan muka atau sekedar suara dan kata-kata melalui layar fana. Masih gembira yang terasa meski kekurangan sudah terjabar dengan kata dan laku yang nyata. Saling menerima. itu saja intinya. Kelebihan atau kekurangan, memang sudah di depan mata. Meski terlihat satu demi satu dan kadang mengejutkan jiwa. Tapi apa mau dikata. Ketika komitmen tercetus di dada, kita hanya tinggal menjalani dengan hati yang terbuka. Berlapang dada. Itu saja. Begitupun aku adanya. Tak sedikitpun terbesit ingin merubah dan dirubah secara paksa. Apalagi dia. Karena aku tahu dia seorang wanita dengan jiwa yang merdeka. Seorang dewasa yang jauh lebih mengenal dunia. Jauh berbeda denganku yang tak mengerti apa-apa. Semuanya memang terasa begitu indah. Sangat indah. Kadang bahkan membuatku ingin teriak tak terima ketika menyadari kini semua itu sudah tiada.”
Detik waktu bergulir. Layaknya air yang sedang mengalir.
“Rasa tak percaya. Menyulut sebuah cemburu di dalam dada. Itu mungkin permulaannya. Bukan sebuah hal yang salah. Karena kita manusia. Mungkin memang sudah kodratnya. Keduanya akan merasakan hal yang sama. Meski pria dilahirkan dengan logika dan wanita dengan rasa. Kekasihku memilih untuk mengungkapkannya. Dan aku lebih memilih untuk memendam itu semua. Meyimpannya rapat-rapat dalam relung jiwa dan menahannya untuk tak keluar di waktu yang tak semestinya. Tak sampai membuatku buta. Tak sampai membuatku merasa tak dicinta. Cukup jadi rahasia hingga saatnya tiba. Baginya aku mungkin seperti seorang yang tak paham bagaimana menghadapi wanita. Baginya aku mungkin hanya seorang jalang yang senang melukai hati dan perasaannya. Baginya aku mungkin seonggok cacing tanah kepanasan yang senang menggeliat tak tentu arah. Bermain dengan cinta dan harapannya. Baginya aku tak mempunyai ruang untuknya. Dihatiku. Yang semestinya sudah menjadi miliknya seorang saja.”
Hasan menarik nafas panjang. Husain menghela nafas sam panjangnya.
“Rasa tak terima, selanjutnya. Tak senang ketika merasa dirinya tak berarti apa-apa buatku yang justru tak mengharapkan apa-apa. Rasa galau yang membuatnya berpikir prioritas hidupku dalam bercinta bukan hanya dia semata. Rasa marah yang menyelimuti jiwanya hingga menganggapku cuma orang yang tak punya rasa. Tak punya titik dewasa. Tak punya nalar dan nurani yang seharusnya. Rasa tak dihargai ketika amarahku cuma menjadikanku layaknya sebuah arca yang diletakkan di depan candi tak berharga. Kekasihku kecewa. Kekasihku nelangsa. Kekasihku terlilit derita.”
“Rasa tak dihargai sebagai manusia dan wanita seutuhnya. Mungkin saat itu yang ia rasa. Ketika jarak telah memisahkan kita tak secara nyata. Dekat tapi tanpa sua. Tak jauh tapi seakan dipisah ribuan pulau tak bernyawa. Ketika diam lebih berkuasa didiriku yang kekanakkan dan penuh cela.”
“Apa mungkin cinta memang sudah tak ada? Atau cinta akhirnya terkulai layu meski awalnya bersemi dengan indah? Aku tak bisa berujar tidak bahkan iya. Mungkin cinta itu sudah redup. Perlahan dihantam ego semata. Ego sebagai seorang pria yang tak punya harta yang lebih berharga selain pendamping hidupnya kelak semata. Ego seorang lelaki yang hanya butuh dihargai tanpa perlu dicaci atas titahnya kepada wanita yang menjadi tanggungjawabnya. Ego seorang yang bisa juga merasa sedih ketika ucap dan katanya tak mampu menjadi sesuatu yang berarti. Hanya melenggak gemulai dari telinga kanan, dan sesaat kemudian melenggok santai dari telinga kiri.”
“Mau jadi apa nantinya kalo kalimatku tak punya nilai apa-apa? Mau berakhir seperti apa ketika inginku cuma terlihat seperti tuntutan yang terlalu mengada- ada? Mau dibawa kemana perahu cinta kita ketika ada dua nahkoda di dalamnya?”
Husain makin terkunci dalam sunyi.
Hasan makin menari dalam sedih. “Mungkin ini hanya secuil perasaan tak penting yang aku rasa. Mungkin ia merasakan rasa yang jauh lebih menyedihkan bahkan mengecewakan dari yang aku punya. Mungkin aku yang jahanam dan dia yang mulia. Mungkin aku si buruk rupa dan dia yang mempesona bentuknya. Mungkin memang sepenuhnya aku yang salah. Tak bisa mencintai kekasihku dengan cara yang sempurna.”
“Mungkin memang itu adanya. Dan aku hanya berharap ia tak membenciku karena kelemahanku yang tak terhingga.”
“Aku harap ia tak membenciku karena itu..”
Husain merasakan sebuah kehilangan yang sangat datang dari hati sahabatnya.
“Hanya saja. Aku juga manusia. Yang punya rasa dan ingin yang menggelora. Yang memiliki hasrat untuk membuatnya selalu bahagia meski hasilnya tak seindah yang aku kira. Aku juga tak mau membuatnya bersedih dalam menjalani hari. Terkukung dalam kekangan yang tak mesti. Aku ingin dia bahagia. Meski tanpa aku kini di sampingnya.”
“Andai saja..”
Terdiam. Termenung.
“Andai saja wanitaku mau tuk belajar mencintai dirinya sepenuh hati, maka akupun bisa belajar mencintainya dengan sebenarnya hati. Andai saja perempuanku mau mencoba menyayangi seluruh harta yang ia miliki, aku juga kan berusah merawat cintaku padanya dengan cara yang hakiki. Andai saja ia mau belajar untuk menghargai. Aku mungkin tak hanya menganggapnya seorang permaisuri seperti saat bertemu dengannya pertama kali dan hingga kini. Andai ia mau melakukan itu semua dengan sepenuh jiwa dan hati, aku pasti telah menjadikannya seorang bidadari..”
Husain tak bisa mengeluarkan kata. Karena Hasan pun sudah tak memiliki kata. Husain sadari satu hal sudah. Hasan sudah kehilangan sebuah cinta..
Comeo
I'm Back..!!!
Finally.. Aku nulis lagi.. Hihihi..Mau nulis apa yah? Mmm.. Kurun waktu vakum yang lumayan lama semenjak terakhir otakku kepakai buat ngerangkai kata jadi sebuah tulisan.
Banyak cerita yang mestinya bisa aku bagi. Tapi seperti biasa, sepertinya jari tangan dan otakku lagi kurang harmonis hubungannya kemarin-kemarin. Ya sudahlah, kalo Bondan Prakoso bilang. Gak ada yang perlu disesali.Toh, dipaksain nulispun gak akan menghasilkan apa-apa juga nantinya. Lebih baik mengalir saja seperti air. Yang penting gak sampai banjir. Mau nulis novel, tapi selalu stuck tengah jalan. Mau bikin cerpen gak pernah dapet ide nakal yang bener - bener bikin gue nafsu buat ngegarapnya. Mau bikin makalah gak tau apa tema yang lagi hot. Mau bikin skripsi belum masanya juga. Jadi lebih baik nulis gak penting kaya gini. Kalopun gak bagus, gak malu-malu amat. Lah wong yang aku tulis emang bukan karya yang harus dipertanggungjawabkan kepada siapapun kecuali diriku sendiri. Hihihihi..
Tapi aku seneng juga. Gak percuma aku ganti handphone, karena akhirnya justru benda ini yang kayanya bakal
memuluskan langkahku buat terus nulis di tengah kesibukanku yang gak sibuk-sibuk amat ini. Padahal aku sempet nyesel kenapa aku gak pake Blackberry lagi buat alat komunikasi dan sosialisasiku . Aku sempet nyesel kenapa aku tergiur buat beli Sony xperia tipo ini. Tapi akhirnya sekarang gue makin yakin, sekecil apapun benda pasti punya fungsi. Pasti punya guna dan manfaat yang bisa kita nikmati dan rasakan. Semua ada hikmahnya.
Penyesalanku berubah jadi kegembiraan yang tak terhingga. Yess..!!! Finally aku bisa nulis lagi.. Dan yang pasti laptopku juga jadi makin terkulai lemah di rumah. Lama tak tersentuh jari-jari telunjuk gue. Mungkin saat ini tuh laptop lagi menjerit sekeras-kerasnya ketika tahu dia kalah saing dengan handphone. Hahahaha..
Maaf, Top! Gak ada maksud apa-apa.
Cuma kadang aku malah mati langkah kalo udah berhadap-hadapan sama km. Besarnya layar km sama sekali gak merangsang otakku buat menghasilkan karya yang besar juga. Untuk kondisiku sekarang aku jadi
teringat pesan abadi, "Semua yang besar berawal dari yang kecil". Dan mungkin aja mimpiku buat menghasilkan tulisan yang baik dimulai dari benda berukuran mini ini. Nothing's possible. Gak ada yang gak mungkin.
Bener kan?
Paling tidak, sekarang, ketika aku ada uneg-uneg atau cerita yang bisa gue bagi (dan siapa tau bisa menginspirasi orang lain), gue bisa lebih up to date.
Feel and write it..!! Masalah mau dibaca orang lain itu nomor kesekian dan terimakasih. Hihihihi..
Jadi buat para pembaca-pembaca setia blogku (kaya banyak aja..), yang kangen sama tulisan-tulisanku yang
ngawur and gak jelas arah anginnya, ijinkan aku dengan segenap jiwa dan raga untuk berteriak dengan narsisnya,
"I'm back..!!"
On my way home.
Finally.. Aku nulis lagi.. Hihihi..Mau nulis apa yah? Mmm.. Kurun waktu vakum yang lumayan lama semenjak terakhir otakku kepakai buat ngerangkai kata jadi sebuah tulisan.
Banyak cerita yang mestinya bisa aku bagi. Tapi seperti biasa, sepertinya jari tangan dan otakku lagi kurang harmonis hubungannya kemarin-kemarin. Ya sudahlah, kalo Bondan Prakoso bilang. Gak ada yang perlu disesali.Toh, dipaksain nulispun gak akan menghasilkan apa-apa juga nantinya. Lebih baik mengalir saja seperti air. Yang penting gak sampai banjir. Mau nulis novel, tapi selalu stuck tengah jalan. Mau bikin cerpen gak pernah dapet ide nakal yang bener - bener bikin gue nafsu buat ngegarapnya. Mau bikin makalah gak tau apa tema yang lagi hot. Mau bikin skripsi belum masanya juga. Jadi lebih baik nulis gak penting kaya gini. Kalopun gak bagus, gak malu-malu amat. Lah wong yang aku tulis emang bukan karya yang harus dipertanggungjawabkan kepada siapapun kecuali diriku sendiri. Hihihihi..
Tapi aku seneng juga. Gak percuma aku ganti handphone, karena akhirnya justru benda ini yang kayanya bakal
memuluskan langkahku buat terus nulis di tengah kesibukanku yang gak sibuk-sibuk amat ini. Padahal aku sempet nyesel kenapa aku gak pake Blackberry lagi buat alat komunikasi dan sosialisasiku . Aku sempet nyesel kenapa aku tergiur buat beli Sony xperia tipo ini. Tapi akhirnya sekarang gue makin yakin, sekecil apapun benda pasti punya fungsi. Pasti punya guna dan manfaat yang bisa kita nikmati dan rasakan. Semua ada hikmahnya.
![]() |
| xperia tipo, android pertama kanwa |
Penyesalanku berubah jadi kegembiraan yang tak terhingga. Yess..!!! Finally aku bisa nulis lagi.. Dan yang pasti laptopku juga jadi makin terkulai lemah di rumah. Lama tak tersentuh jari-jari telunjuk gue. Mungkin saat ini tuh laptop lagi menjerit sekeras-kerasnya ketika tahu dia kalah saing dengan handphone. Hahahaha..
Maaf, Top! Gak ada maksud apa-apa.
Cuma kadang aku malah mati langkah kalo udah berhadap-hadapan sama km. Besarnya layar km sama sekali gak merangsang otakku buat menghasilkan karya yang besar juga. Untuk kondisiku sekarang aku jadi
teringat pesan abadi, "Semua yang besar berawal dari yang kecil". Dan mungkin aja mimpiku buat menghasilkan tulisan yang baik dimulai dari benda berukuran mini ini. Nothing's possible. Gak ada yang gak mungkin.
Bener kan?
Paling tidak, sekarang, ketika aku ada uneg-uneg atau cerita yang bisa gue bagi (dan siapa tau bisa menginspirasi orang lain), gue bisa lebih up to date.
Feel and write it..!! Masalah mau dibaca orang lain itu nomor kesekian dan terimakasih. Hihihihi..
Jadi buat para pembaca-pembaca setia blogku (kaya banyak aja..), yang kangen sama tulisan-tulisanku yang
ngawur and gak jelas arah anginnya, ijinkan aku dengan segenap jiwa dan raga untuk berteriak dengan narsisnya,
"I'm back..!!"
On my way home.
Friday, September 7, 2012
Elkanwa Funny Ways to Elkanwa Guests Blog kidnapping Drop Into Our Blog!
Terlihat judulnya saja sudah aneh bin
ngawur. Maka dari judul itu Elkanwa akan menjelaskan bagaimana kita bisa
menculik pengunjung blog agar bisa datang kalau bisa sampai nginep ke blog kita.
Tapi semua itu ada progress yang cukup mudah, yang penting kamu semua bisa
ngikutin saran Elkanwa ya.
Sebelum memulai Elkanwa mau pemanasan dulu agar
nggak kram tanggannya. Soalnya ini artikel dikatakan biasa-biasa saja. Sudah
siap belum dapat ilmu dari Elkanwa? dan Elkanwa harap kamu semua bisa nangkep
dan menelaah dari semua yang Elkanwa ajarkan hari ini. Nggak usah basa-basi
langsung saja ke to the point *kalau nggak salah bahasa inggrisnya titik*.
#CARA SERU PERTAMA
Elkanwa mau menjelaskan tentang mencari jati diri
*eh sorry salah maksudnya dalam mencari pengunjung blog* Pertama kamu semua
harus ada sebagai dalang dari wayang-wayang kamu. Masih bingung? begini
maksudnya kamu itu harus punya anak buah *bukan buah mangga lho* anak buah itu
bisa berupa dummy blog yang bisa bantu ngedirect artikel dari blog dummy
kamu itu masuk ke blog induk/utama kamu.
Dan kamu juga bisa menggunakan layanan
submit/pasang artikel ke blog/website atau disebut bookmark this articel,
misalnya seperti beritasaya.com, infoElkanwa.com dan masih banyak lagi. Hampir
saja Elkanwa lupa, selain kamu menggunakan dummy blog dan submit free your
articel kamu juga bisa gunakan social network *kalau bahasa alaynya pesbuk,
twitteran, friendster cuma itu yang Elkanwa tahu, kan Elkanwa bukan alay*.
Begini caranya, setelah kamu sudah buat artikel
jangan muluk-muluk artikelnya yang penting bisa dibaca sama the reader *wuissh
bahasanya alay*. Setelah kamu buat artikel, kamu bisa share ke temen-temen
social network kamu semua, kalau bisa juga ke group di facebook atau juga bisa
dishare ke fanspage dan fansbase *yang penting rame dengan fans*.
Selanjutnya kamu bisa tunggu beberapa menit karna
effeknya cukup cepat kalau tidak bereffect itu berarti kamu coba lagi.
#CARA SERU KEDUA
Untuk yang kedua ini kamu cukup buang-buang harta
dan tenaga kamu. Trik ini saya serukan untuk kamu yang nyleneh. Dan dari maksud
kata-kata Elkanwa tadi bahwa saya akan merubah sikap anda menjadi terpuji *kok
bahasanya malah kayak Mario Teguh The Golder Ways*.
Sudah ah jangan ngawur lagi ntar ndak pembaca
artikel Elkanwa pada kabur, beigni maksudnya kamu cukup buat perjanjian ke
temen-temen kamu, terus patungan sama temen-temen kamu buat desain logo
poster atau semacamnya yang penting bisa membantu blog kamu kebanjiran banyak
pengunjung.
Maksudnya kamu itu harus buat logo atau poster,
setelah itu bisa kamu sebar di jalanan, kalau bisa kamu bagikan ke pejalan kaki
dan ditempelkan ke terminal bus ataupun mobil-mobil.
Tapi pas trik menempelkan logo ke mobil-mobil
itu kamu harus datang ke terminal dan diam kamu tempelin logo blog kamu
yang dilengkapi alamat blog/website di bemper belakang jangan kamu tempelin
di bember depan bisa-bisa kamu bakalan di tabrak dan saran Elkanwa kamu jangan
tempelin itu logo pas di pintu mobil, Elkanwa yakin kamu bakalan dikirain
pedangang asongan yang jual stiker blog/website.
#CARA SERU KETIGA
Trik yang ketiga kamu bisa gunakan aplikasi cara
cepat dan praktis buat datangkan pengunjung ke blog kamu. Dan namanya
Youlikehits kamu bisa gunaka aplikasi sepuasnya.
Cukup daftar pakai email kamu dan setelah daftar,
kamu akan dapat code dikirim ke email buat verifikasi. Setelah verifikasi acc,
langsung saja masuk ke home dan situ kamu akan lihat logo. Kamu klik logo
dengan simbol W dan disitu kamu akan ngikutin caranya dari aplikasi itu
sendiri.
#BACA
Dah mau subuh, cukup sampai sini saja penjelasan
tentang Cara Seru Elkanwa Menculik Pengunjung Blog Untuk Singgah Ke Blog
Kita. Dah dulu Elkanwa mau interview sama temen-temen Elkanwa.
Kalau ada perkataan yang tidak berkenan buat anda
semua saya mohon maaf. Saya buat artikel ini hanya untuk membagi cerita
pengalaman untuk berbagi semua yang pernah baca artikel ini.
Monday, July 16, 2012
Some day (PSSI)
Di antara dinginnya suhu ruangan dan redupnya lampu
kamar, aku mau nulis kalau saya ini
sayang sama kamu, ehh. Sayang dia, ehh. Sayang dia juga. Hahaha J)
sayang sama kalian semua yang aja deh
udah mampir dan baca tulisan ini.
Woke, aku Mulai Update Blog Lagi. Update Blog Lagi.
Update Blog Lagi. Rasanya sudah 3 bulan lebih tidak menulis di blog ini, hahaha
kangen euy. Tapi sebelumnya terima kasih banyak kepada sobat Blogger semua yang
telah berkenan untuk berkunjung di blog yang sederhana ini. Kepada yang
kebetulan berkunjung juga. Dan kepada pengunjung yang kesasar saya mohon maaf
terntunya.
Dan yang kedua kalinya, si empunya blog benar-benar
minta maaf kepada sobat Blogger yang komentarnya belum sempat aku balas, tapi
sante aja...akan saya balas di waktu-waktu dekat ini, dan yang satu lagi buat
sobat-sobat yang telah mengirim email ke saya sebagian besar sudah aku balas,
lho kok sebagain besar? Iya, inbox saya penuh dengan email dari sobat Blogger
yang bertanya-tanya pendapat saya mengenai masalah pribadinya dan email
lain2nya, dan mustahil bisa akubalas semuanya...jadi maaf, walau ada beberapa
pertanyaan sobat yang benar-benar berkaitan dengan “Sisolusi masalahnya” masih
saja belum sempat aku balas, ya itu karena keterbatasan waktu dan sedikit sibuk
dengan dunia luar biasa.
Dan karena ini hanyalah sepatah dua patah tiga patah dan
seterusnya sebelum membahas masalah yang lagi heboh saat ini. Saya harap
setidaknya kita dapat tahu apa yang ada disekitar kita saat ini.
Kisruh Persepakbolaaan Indonesia.
Ini sih sebenernya hanya opiniku yang aku lebih lebihin
dan aku kurang kurangi dengan sedikit fakta – fakta
Begini tim nasional indonesia bukan milik PSSI atau PSSI
versi KPSI, melainkan milik seluruh elemen bangsa alias milik nasional. Karena
itu "Yang sekarang sudah ada saja kita akan support." Kata Ketua
Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Tono Suratman.
Dari sini kita belajar seharusnya, kita bahu - membahu
membangun timnas yang kuat yang dapat membanggakan warga Indonesia . jagan bawa
ego. Yang kita tangkap dari sikap keras kepala masing masing kubu seolah
menngisaratkan ada sesuatu dibaliknya mari kita lihat lagi.
Singkat cerita, kisruh bermula jauh – jauh hari
sebelum adanya dualisme ini.
Seperti yang kita rasakan dulu, banyak masyarakat dan
ormas yang mencerca PSSI (persatuan sepak bola seluruh Indonesia) atau bisa
disebut cercaan terhadap para pemimpin dan pengurus PSSI. Hal ini disebabkan
oleh buruknya kinerja dan menajemen PSSI. Tuntutan terhadap ketua PSSI yaitu
Nurdin Halid agar turun dari jabatannya begitu gencar dilakukan oleh
masyarakat, seperti kita lihat pada saat final leg ke 2 piala AFF di Jakarta kemarin.
“nurdin halid mundur” begitulah salah satu bunyi teriakan para superter Indonesia ketika merh putih di kalahkan secara agregat 4-2 oleh Malaysia. Hal ini juga terjadi di padang setelah pertandingan semen padang vs deltras, para superter semen padang melakukan demo agar nurdin halid mundur dari jabatannya sebagai ketua umum PSSI.
NURDIN ITU ORANGNYA PINTAR!
“ nurdin itu orangnnya pintar. Saya melihat dengan mata kepala kepala sendiri bagaimana kelakuannya.Dia bisa mengubah orang yang tadinya bilang kejelekannya , jangankan malam hari, sore aja omongan orang itu sudah berbeda. Itulah hebatnya nurdin. Dia menghalalkan segala cara.” Ujar mantan manejer Timnas Indonesia I Gusti kompyang (IGK) manila dalam diskusi yang bertajuk ‘sepakbola dan korupsi’ di Jakarta ,sabtu(8/1/11)
Pria yang bergelar lengkap Mayjen(purn) DR(HC) IGK Manila menambahkan “pernah wasit pertandingan di gantikan olehnya,jangankan wasit, kepala kejaksaan tinggi Makassar saja bisa dig anti olehnya”
Manila juga mengatakan bahwa Alfred riedl akan di copot dari jabatannya karna Alfred rield tidak mengizinkan seseorang masuk ke ruang ganti pemain.
Selama memangku jabatan sebagai manajer Timnas, manila sukses mengantarkan skuad garuda meraih mendali emas SEA games di Filipina pada 1990 silam. Kemudian pria berumur 68 tahun ini memilih untuk angkat kaki sebagai menajer timnas karna tidak tahan dengan kebobrokan yang ada dalam tubuh pengurus PSSI.
“ada joke di kalangan PSSI :’Tali raffia,tali sepatu,semua mafia harus bersatu’ tadinya saya enggan bicara, tapi mereka sudah mulai macam-macam” tandas Manila
Manila berharap agar masyarakat Indonesia dapat membantu perbaikan untuk PSSI kedepannya terutama dalam masalah pengelolaan dana.
PSSI MELAKUKAN KORUPSI DAN SUAP
SOC (save our soccer) melaporkan PSSI ke KPK atas tuduhan korupsi dan suap :
1.dugaan suap oleh PSSI dalam pembagian tiket AFF
2.dugaan penyalah gunaan dana APBN untuk PSSI
3.dugaan penyalah gunaan dana APBN untuk klub di daerah
Emerson yuntho (perwakilan SOC) mengatakan buruknya prestasi sepak bola Indonesia di sebabkan oleh merebaknya politik suap dan korupsi dalam sepak bola tanah air, baik di nasional maupun di daerah.
SOC mendukung KPK untuk memberantas korupsi di PSSI
hal suap menyuap juga terjadi terhadap PS BLORA yang di todong uang sebesar 250 juta rupiah untuk bisa ikut berkompetisi di Divisi Utama. PS BLORA juga mencium ada hal yang tidak beres terhadap di tunjuknya PERSIS Solo untuk menggantikan PSDS DELI SERDANG yang mundur dari Divisi Utama karna kendala dana.
HARUS ADA PERBAIKAN DALAM TUBUH PSSI
Ketua dpr Marzukii Alie menyerukan dilakukannya pembenahan di dalam tubuh PSSI untuk meningkatkan profesionalisme dan kemajuan sepak bola tanah air.
Marzuki Alie juga mengatakan agar PSSI di kelola dengan menajemen yang baik. Dan sebaiknya pimpinan dan pengurus PSSI harus mendengarkan kritikan masyarakat agar di dalam tubuh PSSI dapat di lakukan pembenahan.
“nurdin halid mundur” begitulah salah satu bunyi teriakan para superter Indonesia ketika merh putih di kalahkan secara agregat 4-2 oleh Malaysia. Hal ini juga terjadi di padang setelah pertandingan semen padang vs deltras, para superter semen padang melakukan demo agar nurdin halid mundur dari jabatannya sebagai ketua umum PSSI.
NURDIN ITU ORANGNYA PINTAR!
“ nurdin itu orangnnya pintar. Saya melihat dengan mata kepala kepala sendiri bagaimana kelakuannya.Dia bisa mengubah orang yang tadinya bilang kejelekannya , jangankan malam hari, sore aja omongan orang itu sudah berbeda. Itulah hebatnya nurdin. Dia menghalalkan segala cara.” Ujar mantan manejer Timnas Indonesia I Gusti kompyang (IGK) manila dalam diskusi yang bertajuk ‘sepakbola dan korupsi’ di Jakarta ,sabtu(8/1/11)
Pria yang bergelar lengkap Mayjen(purn) DR(HC) IGK Manila menambahkan “pernah wasit pertandingan di gantikan olehnya,jangankan wasit, kepala kejaksaan tinggi Makassar saja bisa dig anti olehnya”
Manila juga mengatakan bahwa Alfred riedl akan di copot dari jabatannya karna Alfred rield tidak mengizinkan seseorang masuk ke ruang ganti pemain.
Selama memangku jabatan sebagai manajer Timnas, manila sukses mengantarkan skuad garuda meraih mendali emas SEA games di Filipina pada 1990 silam. Kemudian pria berumur 68 tahun ini memilih untuk angkat kaki sebagai menajer timnas karna tidak tahan dengan kebobrokan yang ada dalam tubuh pengurus PSSI.
“ada joke di kalangan PSSI :’Tali raffia,tali sepatu,semua mafia harus bersatu’ tadinya saya enggan bicara, tapi mereka sudah mulai macam-macam” tandas Manila
Manila berharap agar masyarakat Indonesia dapat membantu perbaikan untuk PSSI kedepannya terutama dalam masalah pengelolaan dana.
PSSI MELAKUKAN KORUPSI DAN SUAP
SOC (save our soccer) melaporkan PSSI ke KPK atas tuduhan korupsi dan suap :
1.dugaan suap oleh PSSI dalam pembagian tiket AFF
2.dugaan penyalah gunaan dana APBN untuk PSSI
3.dugaan penyalah gunaan dana APBN untuk klub di daerah
Emerson yuntho (perwakilan SOC) mengatakan buruknya prestasi sepak bola Indonesia di sebabkan oleh merebaknya politik suap dan korupsi dalam sepak bola tanah air, baik di nasional maupun di daerah.
SOC mendukung KPK untuk memberantas korupsi di PSSI
hal suap menyuap juga terjadi terhadap PS BLORA yang di todong uang sebesar 250 juta rupiah untuk bisa ikut berkompetisi di Divisi Utama. PS BLORA juga mencium ada hal yang tidak beres terhadap di tunjuknya PERSIS Solo untuk menggantikan PSDS DELI SERDANG yang mundur dari Divisi Utama karna kendala dana.
HARUS ADA PERBAIKAN DALAM TUBUH PSSI
Ketua dpr Marzukii Alie menyerukan dilakukannya pembenahan di dalam tubuh PSSI untuk meningkatkan profesionalisme dan kemajuan sepak bola tanah air.
Marzuki Alie juga mengatakan agar PSSI di kelola dengan menajemen yang baik. Dan sebaiknya pimpinan dan pengurus PSSI harus mendengarkan kritikan masyarakat agar di dalam tubuh PSSI dapat di lakukan pembenahan.
"Kamu maunya begini, aku
ikut. Kita lihat siapa yang bertahan."
Sekarang, setelah adanya ketua baru mak kubu nurdin yang
merasa mata pencariannya hilang dan kemudian meradang, membuat rencana
penggulingan kekuasaan dengan menggelar
Rapat Akbar di sebuah hotel di Jakarta, Ahad, 18 Desember 2011 malam. Rapat
menghasilkan lima keputusan dan salah satunya adalah mengadakan Kongres Luar
Biasa (KLB). Rapat akbar ini dihadiri perwakilan 27 pengurus PSSI tingkat
Provinsi, perwakilan pengurus 18 Indonesia Super League, perwakilan 23 divisi
utama, serta 360 klub divisi 1, 2, dan 3. Rapat digelar untuk mengevaluasi
kinerja Ketua Umum PSSI Djohar Arifin.
Rapat Akbar itu dipicu setelah PSSI menggelar kompetisi bertitel Indonesia Premier League (IPL) dan menambah enam klub baru. Pembangkangan terjadi dari beberapa klub yang ngotot berlaga di Indonesia Super League (ISL) atau yang biasa disebut Liga Super. Liga Super dihelat PT Liga Indonesia, pelaksana kompetisi musim lalu, yang mandatnya dicabut PSSI.
FIFA sendiri mengancam memberi sanksi terhadap Indonesia jika PSSI tidak kunjung menyelesaikan dualisme kompetisi hingga 20 Maret 2012.
Sementara itu, Andi Mallarangeng meminta pihak yang berseberangan dengan Djohar Arifin tidak menggulingkan Djohar dengan menggelar KLB. Ia menilai konflik seperti itu sebaiknya diselesaikan lewat arbitrase seperti yang digunakan untuk kasus calon ketua Umum PSSI George Toisutta beberapa waktu lalu. "Yang penting tidak ada penggulingan. Pak Nurdin (Halid) sendiri kita tunggu sampai masa jabatan habis," kata dia.
Andi juga menyarankan agar Indonesian Super League (ISL) bisa satu atap dan duduk bersama dengan Indonesian Premier League (IPL). Apalagi beredar surat bahwa ISL ilegal. »Bisa dibilang begitu satu atap, dulu waktu LPI ingin di bawah PSSI, tapi PSSI menolak. Tapi kalau PSSI ingin menaungi keduanya ya silakan,” tambah Andi.
Andi pun menyayangkan situasi PSSI yang masih kisruh. "Sebelum kepengurusan ini kan ada Komite Normalisasi, seharusnya sudah normal. Yang normal satu kompetisi," kata dia.
Yang jelas, Andi melanjutkan, pemerintah tidak bisa turun tangan langsung. PSSI bisa melakukan mediasi dengan pihak seberang agar kekisruhan yang sudah akut ini bisa cepat selesai.
Lagi pula FIFA tidak suka pemerintah turun tangan. Yang ada sekarang KONI harus bisa memediasi. Pemerintah juga pada dasarnya bisa, mari duduk juga bersama-sama para pemain,” imbuh Andi.
nggak ada yang salah kok dengan ngarep. tapi bakal jadi
salah kalo kebanyakan ngarep. Yah begitulah kalimatku untuk kasus ini.Orang
yang suka ngurusin urusan orang lain tuh mirip sama upil berukuran jumbo. Kudu
disingkirin biar napas makin lega.
Let it be. Let it flow. And in the end, (if you want) I
will let you go.
Ketika
La Nyala Muring-Muring
Membaca berita dari goal.com tentang
La Nyala yang mangkel sama Prof. Djohar, saya jadi tertawa geli.
Lha gimana nggak ketawa, coba lihat
statemen La Nyala berikut ini :
1. “Sudah prestasi semakin menurun,
malah ngomong terus ke publik. Memang dikira publik tidak punya catatan dan
tidak mengikuti perkembangan sepakbola? Pengurus PSSI Djohar punya andil besar
membuat posisi Indonesia terlempar dari kelas elit Asia dan peringkat kita di
FIFA makin menurun,”
Heyy bung, anda tidak sadar kah,
bahwa selama ini anda lah yang lebih sering berkoar-koar di media. Apakah anda
juga tidak sadar, anda juga punya andil yang sangat besar terhadap terpuruknya
prestasi sepakbola Indonesia. :P
2. “Belum tentu pengurus PSSI nanti
memilih wakil tim dari kompetisi IPL, karena ada liga yang kompetisinya lebih
baik dan bagus, dan wakil di LCA harus dipilih dari kompetisi terbaik dan klub
pemenang.”
Hus hus huss,, ngomong apaan sih
dia. Apa dia tak sadar kalau kompetisi, eh turnamen, yang dia selenggarakan itu
illegal, liar, sering tawuran, klub2 hampir kolaps, dia masih bisa bilang ISL
(secara tersirat sih maksud dia gitu) lebih baik. Lagian, mana ada kontestan
Liga Champions yang berasal dari sebuah turnamen??? :P
3. “Apa dia lupa kalau yang tanda
tangan di Kuala Lumpur di depan Task Force AFC dan wakil dari FIFA itu adalah
tiga pihak. Jadi saya imbau masyarakat, khususnya stakeholder sepakbola dan
anggota PSSI untuk memahami dinamika yang terjadi di PSSI dan tak perlu
menghiraukan apa yang dikatakan Djohar Arifin, apalagi dia juga telah dimosi tak
percaya oleh mayoritas anggota PSSI.”
Ah, Bapak bisa aja deh. Tahu aja
kalo masyarakat udah paham dinamika yang sedang terjadi di PSSI. itu karena
ulah Bapak juga kan? hehehe. Pak, ini ada kaca, coba lihat,, ternyata AFC dan
FIFA yang tidak mengakui Bapak. Ahihihi :P
Oke
it`s the end. Someday,
you'll be sorry for today. Thank you so much
Subscribe to:
Posts (Atom)










