Cahaya rembulan menari-nari di antara dedaunan pohon beringin tua. Ken Dedes, dengan tubuh yang dibalut kain putih sederhana, duduk termenung di bawahnya. Angin malam membelai rambutnya yang hitam legam, membawa serta aroma tanah basah dan dedaunan kering. Matanya yang besar dan bulat menatap langit, seolah mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang tak terucapkan.
"Wahyu keraton..." gumamnya pelan, suara itu seakan larut dalam gemericik air sungai yang mengalir tak jauh dari sana. Ia teringat ramalan ayahnya, tentang takdirnya yang akan mengubah dunia. Namun, bagaimana mungkin ia menjadi seseorang yang besar jika langkahnya saja berat diambil?
Dalam keheningan malam, ia bergulat dengan batinnya. "Apakah takdir itu hadiah... atau kutukan?" bisiknya, air matanya menggantung di pelupuk.
Bab 2: Pertemuan yang Membawa Perubahan
Tunggul Ametung, penguasa Tumapel, adalah sosok yang penuh karisma. Tatapan matanya yang tajam mampu menembus jiwa siapa pun yang berani menatapnya. Namun, saat bertemu Ken Dedes, ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya. Di aula besar yang dingin dan megah, ia menatap gadis desa itu dengan penuh minat.
"Kau akan menjadi permaisuriku," ucapnya tegas, suaranya menggema di ruangan itu.
Ken Dedes hanya bisa diam. Di satu sisi, ia merasa tertarik oleh kekuatan dan wibawa pria itu, tetapi di sisi lain, hatinya berteriak, meronta untuk kebebasan.
"Apa ini kehendak Dewa, atau hanya kehendak seorang penguasa?" ia berbisik kepada dirinya sendiri malam itu, menatap pantulan wajahnya di permukaan air.
Namun, keputusannya bukan hanya tentang dirinya. Ramalan tentang dirinya sebagai wanita yang membawa kejayaan besar terus menghantui pikirannya. "Jika aku menolak, apa yang akan terjadi pada keluargaku? Pada desaku?" pikirnya dengan getir.
Bab 3: Bisikan Hati
Ken Arok memperhatikan Ken Dedes dari jauh, mempelajari setiap gerakannya dengan tatapan tajam. Dalam keheningan hutan, ia berbicara kepada pengikutnya.
"Dia bukan hanya wanita biasa," katanya perlahan, suaranya penuh keyakinan. "Dia adalah kunci takdirku."
"Tunggul Ametung tak tahu kekuatan apa yang ia miliki," tambahnya, senyum penuh arti terukir di wajahnya.
Hari itu, ia mendekati Ken Dedes untuk pertama kalinya. Di bawah sinar mentari yang temaram, mereka berdiri berhadapan.
"Kenapa kau selalu termenung?" tanya Ken Arok, suaranya rendah namun tajam.
Ken Dedes menoleh, menatapnya dengan mata yang penuh kehati-hatian. "Apa pedulimu?"
"Aku peduli karena aku tahu kau terjebak," jawabnya cepat. "Di dalam hatimu ada api, tapi kau biarkan ia padam karena ketakutan."
Ken Dedes terdiam, hatinya bergetar mendengar kata-kata itu. Namun, ia menyadari bahaya di balik tatapan pria itu—ambisi yang menyala-nyala, yang mampu membakar segalanya.
Bab 4: Intrik dan Ambisi
Tunggul Ametung, yang semakin sadar akan tatapan Ken Arok pada istrinya, mulai merasa tidak nyaman. Ia memanggil salah satu kepercayaannya untuk berdiskusi di malam yang gelap.
"Ken Arok itu ular," katanya tajam. "Aku tahu ia mengincar sesuatu yang lebih dari sekadar tanah Tumapel."
"Apakah Paduka berpikir ia akan mengkhianati Anda?" tanya pengikutnya.
Tunggul Ametung tersenyum sinis. "Bukan soal apakah dia akan melakukannya, tapi kapan."
Sementara itu, Ken Arok memutar otak untuk memanfaatkan situasi. Dalam pembicaraan rahasia dengan sekutunya, ia menyusun rencana untuk merebut Tumapel.
"Tunggul Ametung terlalu sibuk menjaga tahtanya. Dia tak sadar, kekuatannya yang sebenarnya ada di tangan istrinya," ujarnya sambil tersenyum penuh makna.
Ken Dedes, di tengah permainan kekuasaan ini, merasakan hatinya semakin terkoyak. Ia mencintai kelembutan yang ditunjukkan Ken Arok, tetapi ia juga merasa terikat pada kewajibannya sebagai istri Tunggul Ametung.
Suatu malam, di bawah cahaya rembulan, Ken Arok mendekatinya lagi.
"Dedes," bisiknya lembut. "Denganmu, aku akan membangun kerajaan yang besar. Tapi aku membutuhkanmu untuk mempercayai aku."
Ken Dedes mengalihkan pandangan. "Kau bicara tentang kerajaan, tapi apa yang tersisa dariku jika semua itu terjadi? Aku ini siapa dalam ambisi kalian?"
Kata-katanya menggantung di udara, seperti pertanyaan yang ditujukan pada kedua pria itu—dan pada dirinya sendiri.
No comments:
Post a Comment