Tetes hujan merintih ditengah kangen ku, jika usai hujan di senja ini,

ku berharap pelangi dihadirkan oleh Tuhanku, untuk mengobati rindu yang semakin meronta diujung kalbu.

Monday, January 6, 2025

Cinta Pada Pandangan Pertama: Sebuah Ilusi?


---


Aku tidak pernah benar-benar percaya pada cinta pada pandangan pertama. Mengapa? Karena sering kali, perasaan itu menipu. Ia hanyalah sebuah ledakan emosional sesaat, sebuah rasa suka yang kita bungkus dengan kata "cinta." Kita terlalu sibuk terpesona oleh keindahannya di awal tanpa menyadari kerapuhan yang mungkin tersembunyi di baliknya.

Ada yang bilang, pandangan pertama itu nikmat, tapi pandangan kedua itu syahwat. Mungkin itulah sebabnya banyak orang begitu gigih mempertahankan ilusi dari pandangan pertama mereka. Mereka berkeras berkata, “Love is blind.”

Namun, benarkah cinta itu buta? Atau kita yang menutup mata? Pandangan pertama sering kali hanyalah sekilas gambaran luarnya. Wajah yang rupawan, senyum yang manis, atau gaya bicara yang memikat—semuanya adalah bagian dari "cover." Dan banyak dari kita yang terlalu cepat menyimpulkan isi dari hanya melihat sampulnya.

Aku tidak menyangkal, wajar jika pada pertemuan pertama kita berkata, “Dia cantik,” atau “Dia ganteng.” Bahkan wajar jika rasa suka muncul saat itu juga. Tapi yang keliru adalah menyamakan rasa suka itu dengan cinta. Apakah kita benar-benar memahami perbedaan antara suka dan cinta?

Rasa suka sering kali menjadi awal untuk menggali lebih dalam. Ia mendorong kita untuk mengenal orang tersebut: sifat, kebiasaan, hingga mimpi-mimpinya. Dari sanalah kita mulai menimbang, apakah rasa suka itu akan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih besar atau justru memudar ketika kita menemukan hal-hal yang tidak sesuai harapan. Karena cinta sejati, seperti yang kusadari, tidak tumbuh secepat itu. Ia membutuhkan waktu.

Pernahkah kita berpikir, seberapa panjang jalan yang harus dilalui untuk membangun cinta sejati? Seberapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menemukan kenyamanan, pengertian, dan kepercayaan? Dan, seberapa siap kita untuk menerima semua sisi buruk dan baik dari seseorang?

“Witing tresno jalaran soko kulino.” Kalimat itu sering terngiang di kepalaku. Cinta tumbuh karena terbiasa. Kebiasaanlah yang menciptakan kedekatan, yang pada akhirnya membentuk rasa saling memiliki. Cinta sejati, bagiku, tidak pernah tumbuh dari satu pandangan atau satu pertemuan, melainkan dari perjalanan panjang mengenal dan menerima.

Komitmen, hubungan yang sebenarnya, lahir dari dua jiwa yang saling memahami. Dari waktu yang dihabiskan bersama, dari suka dan duka yang dibagi, dari mengenali kekurangan dan tetap memilih untuk bertahan.

Orang tua kita adalah bukti terbaik dari cinta sejati. Mereka tidak mencintai kita hanya karena melihat wajah kita untuk pertama kalinya. Kasih sayang mereka terbangun dari kebiasaan menjaga, membesarkan, dan melindungi kita, bahkan ketika kita tidak sempurna. Mereka tetap mencintai kita meskipun kita pernah mengecewakan mereka, meskipun kita terkadang melukai hati mereka.

Dan dari mereka, aku belajar bahwa cinta sejati adalah tentang menerima, bukan sekadar menginginkan. Tentang memberi, bukan sekadar meminta.

Namun, aku juga harus belajar menerima bahwa keyakinan tidak selalu sejalan dengan pengharapan. Terkadang, kenyataan justru berbanding terbalik dengan apa yang kita inginkan. Dan di situlah Tuhan mengajarkanku untuk menerima. Untuk melepas.

Pada akhirnya, cinta pada pandangan pertama hanyalah dongeng indah yang kita ciptakan untuk memuaskan hati kita sendiri. Cinta sejati, seperti hidup, tidak pernah sesederhana itu. Ia adalah perjalanan panjang yang mengajarkan kita tentang keikhlasan, pengorbanan, dan kebesaran hati.

Dan aku tahu, setiap perjalanan, seberat apa pun, akan selalu berujung pada pelajaran yang berharga: untuk mencintai, untuk menerima, dan untuk perlahan melupakan.


---


No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...