Tetes hujan merintih ditengah kangen ku, jika usai hujan di senja ini,

ku berharap pelangi dihadirkan oleh Tuhanku, untuk mengobati rindu yang semakin meronta diujung kalbu.

Sunday, August 10, 2025

Tipe-Tipe Pengguna Jalan yang (Pasti) Pernah Kamu Temui



Kadang kalau lagi di jalan, rasanya kayak lagi nonton film dengan banyak karakter unik. Semua ada perannya masing-masing. Ada yang bikin kita adem, ada yang bikin pengen tepok jidat, bahkan ada yang bikin kita mendadak pengen pindah planet.

Suatu pagi, aku lagi berhenti di lampu merah. Di sebelahku ada pengendara yang rapi banget. Helmnya terpasang sempurna, tangannya nggak pernah lepas dari setang, dan pas lampu hijau nyala, dia melaju pelan, santai, nggak bikin panik. Tipe begini nih yang bikin hati tenang. Kalau semua orang kayak dia, mungkin jalanan kita bisa jadi surga kecil.

Eh… tapi di belakangnya, ada yang berbeda. Dia hobi banget klakson. Macet dikit—klakson. Ada orang nyebrang—klakson. Lampu baru kuning—klakson lagi. Kayaknya kalau ada hujan pun dia bakal nyalahin cuaca lewat klakson. Motto hidupnya mungkin: “Hidup itu singkat, jadi klaksonlah selagi bisa.”

Belum habis cerita, di sebelah sana ada yang gayanya udah kayak pembalap sirkuit. Detik hitung mundur di traffic light dianggap start balapan MotoGP. Begitu lampu hijau nyala, ngengggg! dia melesat. Nggak peduli ada ibu-ibu bawa belanjaan di depan atau ada bapak-bapak lagi ngesot nyebrang. Pokoknya gas pol. Biasanya tipe ini nongolnya pas malam minggu, trek-trekan sambil berharap ada yang kagum… padahal kagum pun nggak ada, pacar juga nggak ada.

Lalu, tentu saja, ada tipe “paling menyebalkan”: si ugal-ugalan. Nyelip sana-sini, nyerempet kendaraan orang, nerobos lampu merah, dan sering bikin kita refleks nahan napas. Kalau mau aman, sebaiknya mereka dikasih sepeda roda tiga aja. Minimal kalau jatuh, jatuhnya lucu, bukan bahaya.

Dan terakhir, tipe “nebengers sejati”. Mereka selalu punya bakat menyusup ke kendaraan orang lain. Awalnya ramah banget, sok perhatian, tapi ternyata cuma mau nebeng. Biasanya muncul saat jam pulang kerja atau kuliah. Di parkiran, mereka bisa pura-pura jadi tukang parkir, lalu… hap! Udah duduk di jok belakang kita.

Setiap kali aku di jalan, rasanya aku ketemu satu atau dua tipe ini. Dan aku yakin, kamu juga pernah.
Nah… kalau boleh jujur, kamu termasuk tipe yang mana? 😏

Kau, Aku, dan Dia yang Menangis

Stasiun kereta sepi sore itu. Hari Minggu yang hampir berakhir sepertinya berhasil memaksa banyak orang untuk tetap di rumah, beristirahat sepuasnya sebelum kembali berkutat dengan kejamnya ibu kota.

Aku duduk di kursi besi mengkilap, memegang cangkir plastik berisi kopi dingin. Tanganku gemetar. Entah sudah berapa kali aku memalingkan kepala ke kanan dan kiri, mencari tanda-tanda kedatangannya.

Tak lama kemudian, dia berjalan mendekat. Menunduk, bersenandung pelan. Rambut ikalnya terlihat lebih panjang dan mengilap dari sebulan lalu, saat terakhir kami bertemu di sebuah kafe remang-remang. Wajahnya yang cantik… ah, selalu ada alasan untuk mengagumi fisiknya yang hampir sempurna. Seperti wajah seseorang yang dulu sering kulihat di cermin—bukan di wajahku, tapi di wajah lain yang pernah begitu dekat denganku.

Tanpa berkata apa-apa, dia duduk di sampingku. Jaket beludru coklat panjangnya terjurai halus, menutupi sepasang kaki jenjangnya. Aku mengamatinya seperti seorang bocah yang baru pertama kali melihat mainan mahal. Dengan kekaguman… dengan kasih sayang yang tak pernah padam.

“Kenapa kamu melihat seperti itu?” Dia melirikku dari ujung matanya.

Aku tidak menjawab, hanya tersenyum. Senyum yang sudah lama tak sempat kulatih.

Sebuah kereta listrik melintas cepat di depan kami. Suaranya bising, seperti orkestra tukang besi yang memukul drum asal-asalan. Namun entah mengapa, suara itu terasa nyaman di telingaku, yang sudah akrab dengan keheningan selama bertahun-tahun.

“Bagaimana kabarnya?” tanyaku hati-hati.

Dia menarik napas panjang. “Tumben kamu tanya? Dia baik-baik saja.”

“Dia tahu kamu datang menemuiku?”

“Tidak. Dia tidak perlu tahu. Aku hanya sebentar.”

“Sebentar? Aku sudah menunggu tiga jam.”

Dia menatapku, untuk pertama kalinya sore itu. Sorot matanya—ah, mata itu—mata yang pernah kulihat menatapku dari pangkuan seorang wanita di ruang bersalin belasan tahun lalu. “Sejak kapan kamu peduli? Aku tidak pernah memintamu menunggu.”

“Aku selalu peduli padamu. Selalu. Dan aku tahu kamu juga. Makanya kamu datang.”

“Jangan sok tahu.”

“Aku selalu tahu.”

“Lalu ke mana saja kamu saat aku membutuhkanmu?! Ke mana?! Jawab!” suaranya meninggi, bibirnya bergetar.

Aku terdiam. Ada puluhan jawaban di kepalaku, tapi tak satu pun pantas keluar. Mungkin ini memang hukuman yang layak kuterima.

“Diam! Selalu diam! Sampai kapan kamu mau diam seperti ini?”

“Kamu bertanya sampai kapan? Sampai kamu mau mengerti bahwa aku bernapas untukmu. Bertahan hidup demi kamu. Jadi kumohon tetaplah di sini, dan mulailah menerimaku.”

“Tidak!” isaknya pecah.

Tanganku gemetar, cangkir kopi lepas, isinya tumpah. “Aku tidak memaksamu melakukan apa pun. Aku hanya ingin kamu mengerti… dan mulai menerima keberadaanku lagi.”

“Diam!”

“Bukankah kamu yang memintaku bicara? Ini aku bicara. Ini aku katakan yang sejujurnya.”

Scarf di lehernya mulai basah oleh air mata. Aku ingin menghapusnya, tapi takut disentuhku hanya akan memperburuk luka yang belum sembuh.

“Katakan apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus berdarah untukmu? Mengorbankan nyawaku? Katakan. Apa pun itu… asal kamu mau mencoba menerimaku.”

Dia menunduk, memeluk kakinya di atas kursi. Tangisnya kini lebih sunyi.

Sebuah kereta listrik melintas dari arah kota. Suara bisingnya memaksa kami sama-sama diam. Waktu seperti berhenti sejenak, memberi ruang untuk menimbang segala yang telah terjadi.

“Kenapa kamu harus datang, setelah aku pikir kamu sudah pergi?”

“Karena selamanya kita tidak akan pernah bisa terpisahkan.”

“Tidak! Selama ini aku bisa tanpamu. Seharusnya aku dan dia juga bisa hidup tanpamu!”

“Tapi aku yang tidak bisa hidup tanpamu.”

Dia terdiam.

“Aku bernapas untukmu. Biar waktu yang memisahkan kita. Biarkan waktu yang melakukan itu, bukan kamu, dia, atau aku.”

Aku meraih bahunya, memeluknya erat. Pelukan yang terasa seperti upacara pengembalian sesuatu yang hilang terlalu lama. Dia pun menangis lebih dalam, membalas pelukanku dengan kekuatan yang tak pernah kurasakan darinya sebelumnya.

Aku merasa kembali hidup.

Dan aku tahu kau juga merasakan hal yang sama.
Di balik pilar-pilar raksasa itu, aku tahu kau sedang menangis. Kau menangis karena dulu pernah memisahkan kami berdua. Kau melakukannya karena kesalahan besar yang kulakukan—meninggalkanmu.

Tapi aku juga tahu betapa bahagianya kau melihat dua orang yang paling kau sayangi ini berpelukan untuk pertama kalinya.
Aku—suamimu.
Dan dia—putri kecilmu, yang kini tumbuh secantik kamu.

Wednesday, July 9, 2025

Peradaban Tak Pernah Mati"



"

Latar:
Sebuah negeri kecil yang dulunya gemilang, kini porak poranda oleh penjajahan modern: bukan lagi oleh senjata, tapi oleh penghapusan identitas, penghinaan terhadap budaya, dan persekusi diam-diam terhadap mereka yang berbeda suara.


---

1. Asap di Langit Timur

Pagi itu, langit Kota Lembah Biru menghitam. Bukan karena hujan, tapi karena tempat ibadah satu-satunya di Distrik Alaya terbakar untuk kedua kalinya dalam setahun.

Bara masih membara saat Mala, seorang guru muda, berdiri di puing-puing sambil memeluk murid-muridnya. Tak ada yang bisa diselamatkan, kecuali keyakinan bahwa mereka harus bertahan.

Mala menatap ke langit yang menghitam, lalu berkata, "Bawa pesan ini ke persekutuan kita. Tempat ibadah terbakar lagi. Tapi bukan iman kita yang mati."


---

2. Rumah yang Digrebek

Di sisi lain kota, Eja—seorang pemuda seniman—baru saja pulang dari pameran ketika rumah pamannya digrebek. Mereka dituduh menyimpan naskah-naskah kuno yang ‘mencurigakan’, padahal itu hanyalah puisi-puisi kuno dari bahasa nenek moyang.

“Nama kita diinjak lagi,” bisik Eja lirih, saat para aparat masuk tanpa izin, mengambil dokumen, bahkan dispenser air pun dirampas. Ia hanya bisa menggambar diam-diam: sepasang kaki yang menginjak gapura, dengan tulisan "Selamat datang" terbalik.


---

3. Saksi yang Tak Buta

Di sudut gang sempit, tinggal seorang kakek tua bernama Baba Rasman. Ia satu dari sedikit saksi hidup masa lalu yang masih berani bicara.

“Yang jadi saksi harus kuat,” katanya kepada cucunya. “Tak terbutakan dunia, tak terayun akhirat. Kita ini rantai sejarah. Yang patah, tumbuh. Yang hilang, berganti.”

Meski gapura budaya mereka hancur oleh buldoser “pembangunan”, Baba tetap mengajar anak-anak menari di ruang tamu rumahnya yang sempit. “Kita bangun lagi,” ujarnya setiap malam.


---

4. Api, Luka, dan Doa

Tiga bulan berlalu. Kota makin kacau. Bahasa daerah dilarang di sekolah. Perempuan dipaksa mengenakan pakaian “standar”.

Namun dari balik larangan itu, sebuah gerakan diam-diam lahir. Mereka menyebut diri: Peradaban Abadi.

Mereka menulis puisi dalam bahasa yang telah dikubur. Mereka menyulam pakaian lama dari motif leluhur. Mereka menulis di dinding kota:

> "Kar'na peradaban takkan pernah mati. Kebal luka bakar, tusuk, atau caci maki."




---

5. Para Pemimpi di Bawah Langit Gelap

Mala, Eja, dan para pemuda lain bertemu diam-diam di sebuah rumah panggung tua di pinggiran kota. Mereka menciptakan ruang belajar, perpustakaan bayangan, dan pementasan rahasia. Mereka menulis naskah berjudul: "Suatu Saat Nanti."

Dalam setiap naskah, mereka mengabadikan pesan:

> "Budaya-bahasa berputar abadi. Jangan coba atur tutur kata kami. Jangan atur gaya berpakaian kami."



Mereka tahu, hidup bukan tentang tunduk — tapi tentang memilih bagaimana berdiri.


---

6. Hari Itu Akan Tiba

“Suatu saat nanti,” bisik Mala pada Eja saat mereka melihat cahaya fajar, “tanah air akan kembali berdiri.”

“Dan kita akan memimpin diri sendiri,” sahut Eja.
“Kita akan meninggalkan sidik jari.”
“Dan semoga... semua berbesar hati.”

Tak ada ledakan. Tak ada pemberontakan bersenjata. Tapi sejarah tahu: peradaban tak selalu menang lewat perang. Kadang ia menang lewat ingatan. Lewat kesetiaan. Lewat kata-kata yang ditulis meski tahu takkan dicetak.


---

Penutup
Di balik reruntuhan, peradaban hidup. Dalam nyanyian anak-anak, dalam gambar mural, dalam bahasa ibu yang dibisikkan menjelang tidur.

Karena pada akhirnya — peradaban takkan pernah mati.



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...