Tetes hujan merintih ditengah kangen ku, jika usai hujan di senja ini,

ku berharap pelangi dihadirkan oleh Tuhanku, untuk mengobati rindu yang semakin meronta diujung kalbu.

Sunday, December 1, 2024

Naskah Drama "Prahara di Kerajaan Jagat Bayu"

Tokoh-tokoh utama:  
- Arjuna Wijaya: Pangeran dari Kerajaan Jagat Bayu, penuh ambisi dan cinta yang terlarang.  
- Putri Mentari: Putri dari Kerajaan Langit Biru, sosok bercahaya yang menjadi tambatan hati Arjuna.  
- Raja Dirgantara: Ayah Putri Mentari, keras dan menjaga tradisi, menghalangi cinta mereka.  
- Permaisuri Candra: Ibu Arjuna, bijaksana tetapi terjebak dalam konflik keluarga.  
- Patih Jati Kusuma: Penasehat Arjuna, loyal tetapi sering memanfaatkan keadaan untuk kepentingan sendiri.  

---

Adegan 1  
(Taman istana, sore hari, Arjuna termenung di bawah pohon beringin tua. Angin senja berhembus membawa aroma bunga melati.)  

Arjuna Wijaya:  
(berbicara sendiri) 
Oh, langit merah yang mengantar senja,  
Mengapa aku diciptakan dengan hati yang haus?  
Mentari ada di sana, begitu dekat, namun mustahil kugapai.  
Apakah takdir sengaja menjadikan kita lawan?  
Bagai Matahari dan Rembulan yang selalu berkejaran,  
Namun tak pernah bertemu di peraduan.

(langkah kaki terdengar, Patih Jati Kusuma muncul) 

Patih Jati Kusuma :  
Tuanku, mengapa wajah paduka begitu muram?  
Apakah kabar dari Kerajaan Langit Biru membuat hati paduka gundah gulana?  

Arjuna Wijaya:  
Oh, Patih! Aku terjebak dalam takdir kejam.  
Mentari, sang cahaya hatiku, kini tak lebih dari ilusi.  
Ayahandanya, Raja Dirgantara, mengancam perang  
jika aku tetap berusaha mendekatinya.  
Haruskah aku menyerah, meninggalkan cintaku  
atau kuperangi seluruh dunia demi dia?  

Patih Jati Kusuma (tersenyum penuh tipu daya):  
Cinta, Tuanku, adalah permainan maut.  
Namun, kemenangan hanya milik mereka yang berani.  
Bagaimana jika…aku siapkan strategi?  
Kita buat Raja Dirgantara percaya  
bahwa Mentari tidak lagi menjadi ancaman.  
Diam-diam, paduka bisa mempertemukannya di bawah malam sunyi.  

Arjuna Wijaya (berdiri dengan semangat):  
Oh, Patih! Kau adalah sinar dalam kegelapan.  
Susunlah rencana itu,  
Aku akan menantang takdir sekalipun, demi Mentari.  

---

Adegan 2
_(Istana Kerajaan Langit Biru. Putri Mentari duduk di balkon, menatap bulan yang menggantung sendu.)_  

Putri Mentari:  
(berbisik kepada bulan)  
Oh, Rembulan, teman setiaku dalam kesunyian.  
Kau tahu betapa aku merindu,  
Namun kau tak pernah berkata apa-apa.  
Arjuna, sang pangeran dari bayang-bayang,  
Apakah ia masih menyebut namaku  
di sela doa-doa malamnya?  

(Permaisuri Candra tiba-tiba muncul, membawa surat dari Arjuna.)

Permaisuri Candra:  
Anakku, aku datang dengan pesan dari Jagat Bayu.  
Ini dari Arjuna,  
Namun jangan biarkan siapa pun melihatnya.  

Putri Mentari (menerima surat dengan gemetar):  
Terima kasih, Baginda Permaisuri.  
Adakah harapan di dalam kata-katanya?  

_(Ia membaca surat itu dengan suara gemetar.)_  

Putri Mentari:  
“Malam ini, di bawah pohon beringin tua,  
Datanglah, wahai Mentari,  
Aku akan menyelamatkan kita dari takdir.”  
Oh, Ibu Permaisuri,  
Dapatkah cinta melawan semua ini?  

Permaisuri Candra :  
Cinta, wahai Mentari, adalah api yang membakar dunia,  
Namun jangan biarkan api itu membakar dirimu sendiri.  
Pergilah, tetapi waspadalah terhadap jebakan.  

---

Adegan 3
(Tengah malam, di bawah pohon beringin tua. Arjuna menunggu dengan cemas. Mentari datang mengenakan kerudung putih.)

Arjuna Wijaya (berlari menghampirinya):  
Mentari! Kau datang.  
Oh, betapa malam ini menjadi terang karenamu.  

Putri Mentari (menangis):  
Arjuna, aku takut.  
Ayahku mencium niat kita.  
Ia sudah menyiapkan pasukan,  
Dan aku…aku tak ingin kau celaka.  

Arjuna Wijaya (mencengkeram tangannya):  
Takdir boleh memisahkan langit dan bumi,  
Namun aku akan melawan mereka semua.  
Kita akan pergi, Mentari,  
Ke tempat di mana tak ada takdir yang berkuasa.  

Putri Mentari:  
Tetapi, Arjuna…  
Bagaimana jika semua ini hanya membawa kehancuran?  
Aku tak ingin menjadi alasan kerajaanmu runtuh.  

(Suara pasukan terdengar mendekat. Mentari tersentak, wajahnya pucat.) 

Arjuna Wijaya (mencabut kerisnya):  
Jika malam ini adalah malam terakhir kita bersama,  
Maka biarlah dunia tahu bahwa cinta adalah pemberontakan.  
Aku akan melawan semua, demi kau, Mentari.  

(Pasukan Raja Dirgantara muncul, dipimpin langsung oleh sang raja.)  

Raja Dirgantara:  
Hentikan, Pangeran Arjuna!  
Cinta ini hanyalah angan-angan,  
Kau tidak akan pernah bisa memiliki putriku!  

Arjuna Wijaya (menantang):  
Jika kau adalah malam, maka aku adalah fajar.  
Kita boleh berselisih,  
Namun aku akan terus mengusir kegelapanmu!  

(Pertempuran terjadi. Namun dalam kekacauan, sebuah panah menyasar ke arah Putri Mentari. Ia jatuh, darah mengalir membasahi tanah.)

Putri Mentari (tersenyum lemah):  
Arjuna…  
Kita seperti Matahari dan Rembulan.  
Kita berkejaran, tetapi takdir tidak pernah memihak.  
Maafkan aku…  

(Mentari menghembuskan napas terakhir di pelukan Arjuna. Sang pangeran berteriak penuh duka.)  

Arjuna Wijaya:  
Oh, semesta yang kejam!  
Mengapa cinta harus dihukum?  
Jika Mentari tidak bisa hidup di dunia ini,  
Maka biarkan aku menyusulnya ke alam baka.  

(Arjuna menusukkan keris ke dadanya sendiri, menyusul Mentari ke keabadian.)

Raja Dirgantara (jatuh berlutut):  
Apakah ini harga dari kesombonganku?  
Dua nyawa melayang karena aku menolak cinta mereka.  
Semoga roh mereka bersatu di alam lain,  
Di mana tak ada lagi batasan yang memisahkan mereka.  

(Tirai perlahan menutup, meninggalkan dua tubuh terbaring di bawah pohon beringin tua. Suara gamelan mengalun pilu, menutup kisah tragis ini.)

TAMAT.

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...