Hidup, cinta, dan takdir adalah sesuatu yang tak bisa dipilih sesuka hati. Begitu juga denganku. Aku tidak pernah meminta untuk jatuh cinta padamu, seseorang yang lebih sering menjadi badai daripada pelipur. Namun, hati tetap memilihmu, meski itu berarti aku harus menari di antara luka-luka yang kau goreskan.
Malam itu, angin lembut meniup dedaunan di halaman kecilku. Aku duduk di beranda, ditemani secangkir teh yang mulai mendingin. Bayanganmu tak pernah pergi dari benakku. Bahkan dalam keheningan malam seperti ini, kamu tetap memenuhi pikiranku, menguasai setiap sudutnya.
Tiba-tiba, ponselku berbunyi. Pesan darimu.
*"Lagi apa? Aku ingin bicara."*
Hatiku berdebar. Selalu begitu setiap kali namamu muncul di layar. Aku menarik napas panjang, mencoba mengusir resah yang perlahan datang. Tapi tentu saja aku membalas.
*"Aku di rumah. Kalau mau datang, pintu terbuka."*
Tak butuh waktu lama, ketukan pintu terdengar. Aku membuka dan mendapati dirimu berdiri di sana. Wajahmu penuh kegelisahan, tapi senyummu tetap memikat, seperti selalu.
“Kamu baik-baik saja?” tanyamu lembut, suaramu bagai angin yang menenangkan gelombang di hatiku.
Aku mengangguk, meski di dalam dada, badai tengah bergemuruh. "Masuklah. Aku buatkan teh."
Kau duduk di kursi, sementara aku sibuk mengaduk teh, mencari keberanian untuk berbicara. Setelah selesai, aku duduk di hadapanmu. Hening. Hanya suara jangkrik yang menemani kami.
“Kamu tahu, kan?” suaramu memecah keheningan. “Aku nggak pernah bermaksud menyakitimu.”
Aku tersenyum pahit. “Tapi itu yang selalu terjadi, bukan?”
Kau menunduk. Aku tahu kau mencoba mencari kata-kata untuk membela diri, tapi aku tak memberimu kesempatan.
“Kamu tahu,” aku melanjutkan, “Aku terlalu sering jatuh di lubang yang sama. Aku tahu harusnya aku berhenti. Tapi aku nggak bisa. Hatiku sudah terlalu jauh tenggelam di kamu.”
Matamu menatapku, penuh dengan rasa bersalah. Tapi ada sesuatu yang lain di sana—sesuatu yang membuatku selalu kembali, meskipun tahu ini akan menyakitkan.
“Kenapa kamu nggak pergi saja?” tanyamu akhirnya.
Aku tertawa kecil, getir. “Kamu pikir aku nggak mau? Aku sudah mencoba. Tapi semakin jauh aku melangkah, semakin aku merasa kehilangan diriku sendiri. Karena kamu bukan hanya orang yang aku cintai. Kamu adalah rumahku.”
Hening lagi. Aku bisa melihat kau terjebak dalam senandika yang tak terucapkan.
“Dengar,” katamu akhirnya, suaramu bergetar. “Aku juga nggak tahu harus bagaimana. Aku nggak pernah berniat mempermainkan perasaanmu. Tapi aku… aku takut.”
“Takut apa?” tanyaku, suaraku hampir berbisik.
“Takut aku nggak cukup baik untuk kamu. Takut aku nggak bisa mencintaimu seperti kamu mencintaiku.”
Aku terdiam. Kata-katamu menusuk hati, tapi entah kenapa juga menenangkan. Setidaknya, aku tahu alasannya sekarang.
“Dengar,” kataku pelan, menatap matamu yang penuh keresahan. “Aku nggak butuh kamu sempurna. Aku hanya butuh kamu ada. Aku tahu mencintai kamu itu nggak mudah. Tapi aku juga nggak mau berhenti. Kalau kamu masih mau berjuang, aku juga akan tetap di sini.”
Kau menatapku lama, seolah mencoba mencari kebenaran dalam kata-kataku. Akhirnya, kau menggenggam tanganku.
“Aku nggak tahu apakah aku pantas mendapatkan ini,” katamu. “Tapi aku akan mencoba. Aku janji.”
Angin malam berhembus pelan, seolah merestui janji itu. Dalam keheningan yang menghangatkan, aku merasa bahwa meskipun cinta ini penuh luka, ia juga penuh keindahan. Karena pada akhirnya, cinta adalah tentang menerima, berjuang, dan percaya.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa perjuanganku tidak sia-sia.
No comments:
Post a Comment